GARIS hidup memang tak linier. Tapi ibarat puzzle, serpihannya kerap menjalin benang merah yang berhubungan satu sama lain. Seperti perjalanan hidup Ahmad Slamet Faikuzzaman Salmon - yang karib disapa Ade Salmon - dari masa kuliah hingga karirnya kini. Dari dunia aktivis kampus ke kancah praktis. Dari forum diskusi terjun ke kancah praktisi.
Sebagai aktivis kampus, Ahmad Salmon akrab dengan forum-forum diskusi, dari soal-soal pergerakan kampus hingga wacana ilmiah tentang ekonomi Islam salahsatunya, memang sudah diakrabinya di forum-forum diskursus kala itu.
Tak dinyana, ide-ide yang dulu dikenalnya lewat forum diskursus kini benar-benar diterjuninya. Pun organisasi Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) yang digagas sejumlah temannya seperti Moh. Adib Zein, kini menjadi organisasi yang dipimpinnya untuk wilayah Jawa Barat. "Unik, Asbisindo itu salah satu pendirinya adalah kawan-kawan aktivis di kampus dulu, Adib Zein, Erick, kini malah saya menjadi Ketua DPW Asbisindo Jabar," ungkap pria kelahiran 11 Januari 1960 ini agak excited.
Dunia aktivis seolah tak bisa lepas dari diri Ahmad Salmon. Sempat nyasar kuliah di Politeknik Mekanik Swiss (sekarang Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, red) selama setahun. Tapi kampus yang dikenal padat dengan jam praktikum bengkel itu seolah menyiksa jiwanya. Ahmad Salmon yang dahaga akan dunia pergerakan kampus, diam-diam ikut test masuk Fakultas Ekonomi Unpad, dan lolos. Bak bebas dari rumah tawanan, Ahmad Salmon langsung tune in dengan dunia universitas yang lebih memberinya banyak warna bagi jiwa aktivismenya.
Spirit aktivis boleh jadi menitis dari sosok sang ayah, K.H. Muhamamad Salmon Salam Jiwadisastra, salah seorang tokoh ulama Jawa Barat. Ia lahir dan tumbuh dewasa dalam didikan sang tokoh bersama sang ibu, Hj. Siti Rohmah. Ade Salmon putra kesepuluh dari sebelas putra-putri Kyai Muhammad Salmon, tentu sarat nilai religi dan ide perjuangan. Kendati mengaku tak seintens beberapa kakaknya yang menyaksikan langsung sepak terjang perjuangan sang ayah di kancah pergerakan Islam, Ade Salmon cukup mendapat banyak nilai darinya. Itu pula yang turut memberinya spirit terlibat dalam organisasi. Termasuk pilihannya terjun ke dunia bank syariah.
Salah satu motivasinya didapat dari sepenggal kisah sesaat sebelum sang ayah wafat. Keluarganya menemukan sejumlah uang yang konon dikumpulkan dari pemberian Ade Salmon pada sang ayah. "Uang itu seolah isyarat kebimbangan almarhum pada kedudukan hukum gaji yang saya terima dari bank konvensional tempat saya bekerja saat itu," kenang ayah dari Muhammad Rafi Al-Ghifari ini. Berikut penuturannya lebih lanjut:
Bisa Bapak ceritakan awal bergabung ke dunia perbankan?
Awalnya saya bergabung ke Bank Artha Graha, selama tujuh tahun. Sejak tahun 1997 saya masuk BTPN.
Bagaimana awal perjalanan di dunia bank syariah?
Sejak awal motivasi saya memperjuangkan bank syariah sudah ada. Ketika bergabung ke BTPN di tahun 1997, tapi saya baru berkesempatan mengusulkan ide pendirian unit syariah karena posisi saya sebagai Wakil Kepala Divisi Perencanaan memungkinkan untuk itu. Saya pun ditunjuk menjadi Wakil Ketua Tim Pembentukan Unit Usaha Syariah.
Peristiwa menarik apa yang terjadi pada momentum itu?
Saat awal menggelindingkan ide pendirian unit syariah di BTPN tahun 2000, saking inginnya, sampai-sampai saat berlangsung konflik di Aceh kita berpikir untuk menjadikan momentum pemberlakuan syariat Islam di sana sebagai pintu masuknya. Dalam situasi perang di sana kita ke sana, bicara dengan DPRD setempat bagaimana menghidupkan perbankan syariah di sana sekaligus kita mengawali langkah pendirian UUS. Memang situasi agak serem, bahkan kita sempat beberapa hari mengintip situasi sebelum masuk ke Aceh, karena belum gencatan senjata saat Perjanjian Helsinki berlangsung.
Perkembangan berikutnya bagaimana respon dari manajemen?
Kebetulan kita konsultasi ke direksi yang juga dalam keadaan agak vakum, karena hanya ada satu direktur. Ada dua vendor yang satu agak moderat dan satunya konservatif. Celakanya, vendor yang konservatif itulah yang mendapat kesempatan prensentasi pertama sehingga direksi kaget dan langsung menolaknya. Akibatnya tertunda.
Tapi, tahun berikutnya (2001) saya kembali mengusulkan di forum RAB. Sehingga ketika saya sudah tidak berada lagi di kantor pusat, melainkan menduduki Pimpinan Cabang Provinsi Banten, usulan itu diterima oleh investor dan jajaran direksi baru. Saya dipanggil kembali untuk mematangkan rencana pendirian unit syariah. Dan Alhamdulillah berdiri hingga terwujud seperti sekarang ini. Memang ada keindahan tersendiri dengan segala suka dukanya. (aep s.abdullah/Infobank Syariah/"GM")** |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar