Powered By Blogger

Minggu, 12 Maret 2017

Ka'bah dan Mekah pada masa Abdul Muthalib

Ka'bah dan Mekah pada masa Abdul Muthalib.

----Terinpirasi dari petuah salah satu Dosen di daerah Banten. Bahwa Suku Quraisy saat sebelum Nabi Muhammad dilahirkan adalah bangsa tersebut telah memajukan Mekah, bukan karena Ka'bah dan letak geografisnya, melainkan kepiawaian para pemimpin Quraisy dalam mengelola kota Mekah.----
____________________________________________

Abdul Muthalib mewarisi kepimpinan dari nenek moyangnya. Namun, ia lebih baik dari mereka. Dia mampu mengemban tanggung jawab dengan baik, oleh karena itu, Mekah di tangannya mencapai puncak kemajuan di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, dan sosial. Banyak para ahli sejarah yang memuji kemuliaan dan kepribadian Abdul Muthalib. Catatan sejarah, bahwa para pemimpin yang hidup semasanya pun mengakui kepemimpinan dan keunggulannya.

Dalam bidang politik dalam negeri, beliau berhasil menjaga perdamaian antar suku di Mekah. Di masanya, suku-suki hidup berdampingan dengan damai dan nyaman. Mereka tunduk kepada kepemimpinan Quraisy dan merasa takjub akan politik bijaksana yang diterapkan Abdul Muthalib. Itu menjadi faktor utama bagi kesejahteran kaum Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan. Karena dari sumber sejarahwan menyatakan, bahwa sebelumnya antar suku yang satu dengan yang lain suka berperang demi memperebutkan sumber penghidupan mereka. Sehingga kesejahteraan jauh sekali dari harapan.

Dalam kancah politik luar negeri, Abdul Muthalib mampu menjalin hubungan yang baik dengan dua negara tetangga besar yaitu Persia & Romawi serta kerajaan yang berpengaruh yakni Hira & Ghassan. Ia juga berhasil menjalin hubungan baik dengan Yaman & Habasyah, hubungan Abdul Muthalib terjalin sangat erat.

Sampai ketika Abdul Muthalib, meminta Raja Najasyi dari Yaman, menjadi penengah antara dia dan pamannya, Naufal, saat berselisih. Hubungan kedua tokoh ini terus berlngsung hangat dan terputus saat Abrahah membangun Gereja besar di Shana'a untuk mengalihkan jamaah haji yang datang ke Melah.

Dalam bidang ekonomi, Abdul Muthalib berhasil mengangkat Mekah menjadi kota besar dan pusat kehidupan ekonomi bangsa Arab. Pada masanya, Mekah menjadi tempat paling nyaman untuk pertemuan kafilah-kafilah dagang dari berbagai bangsa dan agama. Itula sebabnya Mekah menjadi kota yang penuh dengan tradisi, budaya dan kaya peradaban.

Kedudukan dan kemuliaan Abdul Muthalib ini memuncak di tengah-tengah suku Arab ketika ia berhasil menemukan kembali dan menggali sumur Zamzam. Sepanjang sejarah, penduduk Mekah terus kekurangan sumber air. Demi air, mereka harus menempuh perjalanan jauh ke luar kota Mekah dengan kantong-kantong besar yang diangkut menggunakan Unta. Mereka yang tinggal di Mekah, harus mengeluarkan biaya yang mahal hanya untuk mendapatkan air. Namun, ketika Abdul Muthalib menemukan sumur Zamzam yang hilang dan air memancar dengan deras, segenap penduduk Mekah bersuka ria dan menganggap penemuan itu sebagai peristiwa agung. Maka, Abdul Muthalib menjadi tokoh yang dielu-elukan karena berhasil mengurangi beban hidup penduduk Mekah kala itu.

Ketika Mekah menghadapi serangan dar Habasyah, Abdul Muthalib berhasil menyelamatkan penduduk Mekah ke gunung-gunung dan lembah-lembah. Ia mampu menginspirasi kaumnya untuk berdiri dalam satu barisan dan melupakan semua konflik demi mengahadapi musuh yang asing yang datang menyerang. Ketika pasukan Abrahah menyerang, semua suku Arab pun bersatu, mereka berdiri gagah di belakang Abdul Muthalib untuk menghadang pasukan Gajah hingga akhirnya diberi kemenangan oleh Allah SWT melalui bantuan yang tidak diduga. Maka, Mekah & Ka'bah pun selamat dari serangan yang mengerikan dan tentara yang terkenal ganas tersebut.

Sistem keuangan kota Mekah juga sangat rapi di tangan Abdul Muthalib (saat ia memimpin). Pada masa kepemimpinannya, Mekah memiliki anggaran belanja yang tertib. Abdul Muthalib mengumpulkan dari sebagian harta penduduk Mekah untuk belanja makan dan minum seluruh jemaah Haji serta membeli penutup Ka'bah (kiswah) yang terbuat dari bahan yang baik.

Pada era kepemimpinannya, keadilan ditegakkan. Inilah yang membuat penduduk Mekah menarih hormat dan tunduk patuh pada Abdul Muthalib. Ia adalah sosok pemimpin yang cerdas, adil dan bijaksana. Ia serahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk melayani penduduk Mekah (bukan seperti saat ini, penguasa idiot hanya melayani Parte-parte idiot mereka saja) dan memudahkan semua jemaah haji yang berkunjung ke Mekah dan Ka'bah tanpa atura-aturan yang menyukitkan mereka (tanpa Visa, Pasport, tetek bengek yang katanya punya Umat Islam, tapi ketika ke sana sama saja diperlakukan seperti bukan oranh yang seagama, fakta bahwa Saudi adalah Negara Sekuler).

Ia juga mampu mengorganisi secara rapi kafilah-kafilah dagang yang hendak pergi ke Negara tetangga. Dalam pengaturan ini yang paling diperhatikan adalah penyesuaian waktu berangkat kafilah dagang asing dan waktu tiba mereka (saat ini sudah yang makin kacau, hantam harga, hantam lain-lain yang berujung pada Dukun). Dan ini pastinya membutuhkan pengelolaan / manajemen yang baik serta strategi yang baik. Jika tidak, kafilah-kafilah dagang Arab akan pergi sia-sia. Apalagi kafilah dagang Mekah sangat besar jumlahnya, dalam Al Husaini, al-Iddarah al-Arabiyyah (kairo, Alf Kitab, t.th.) Hal 29, jumlah untanya saja mencapai 2000, kuda sebanyak 500 dan anggota rombongan ada 300.

Maka, dapat disimpulkan bahwa kondisi ini bertolak belakang dengan para pandangan sejarahwan yang pandai, yang menganggap masa Jahiliyah era itu adalah sebagai masa yang kacau balau dan penuh kegelapan (sejatinya Jahiliyah adalah zaman kebodohan, ketika manusia diliputi kebodohan yang luar biasa, seperti saat ini, sudah jelas Islam adalah yang terbaik, kenapa mesti pilih yang lain..?!) yang menganggap ketika itu bangsa Arab tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Padahal, Mekah adalah kota yang mewarisi berbagai budaya dan peradaban dari negara-negara besar saat itu seperti Babilonia, Asyuria, Iramia, Kan'ani dan Saibah. Tidak hanya Mekah mereka juga mewariskan berbagai warna budaya pada dunia.

Seorang sejarawan orientalis, Wellhausen, mengatakan bahwa sebenarnya Mekah menjadi Kota yang maju bukan karena keberadaan Ka'bah atau letak geografisnya. Tapi, lebih karena kepiawan para pemimpin Quraisy dalam mengelola kota Mekah. Karena kepiawan merek ini, Quraisy menjadi Suku yang jauh lebih maju dari suku-suku Arab lain di jazirah Arab. Bahkan, lebih maju dari penduduk Yastrib (Madinah). Hal itu karena, penduduk Mekah hidup di era perdagangan, sementara penduduk Mandiah (Yastrib) masih berkutat di pertanian. Ketika itu, Mekah sudah mengenal berbagai macam layanan administrasi, pemeliharaan fasiitas umum dan manajemn kepemilikan properti.

Pada masa Abdul Muthalib, bulan haji adalah bulan haram, dimana pembunuhan, peperangan dilarang. Bangsa Arab lantas menggunakan kesempatan ini untuk mengundang orang dari seluruh penjuru Arab agar mau datang ke Mekah, untuk menyaksikan pasar tahunan. Saat itu, selain untuk tujuan ekonomi, diadakannya lomba-lomba sastra. Pasar Ukkazh adalah salah satu tempat yang dijadikan pentas sastra dan syair. Setiap suku berlomba menampilkan pentolan-pentolan yang ahli dalam bidang sastra dan syair agar dapat memenangkan perlombaan tersebut.

Sebagai pusat kegiatan haji, Mekah menjadi kota tuan rumah. Maka, para tokoh quraisy membuat aturan-aturan yang ketat pada penduduknya pwrihal pelayanan jemaah haji. Terutama masalah penyediaan konsumsi, selain itu mereka juga menginstruksikan agar semua penduduk menjaga kebersihan jalan di seluruh kota & bergotong royong membersihkan Mekah, dari sampah-sampah baik karena banjir  dan lain-lain. Adapun para budak bertugas mengambil air dari sumur-sumur di luar Mekah dan membawanya ke Ka'bah untuk membuhi kebutuhan haji.

Setiap blok pemukiman di Mekah memiliki tempat pembuangan sampah khusus (Pengaruh Ka'bah bagi perkembangan kota Mekah karya: Prof. DR. Ali Husni al-Kharbuthli). Orang-orang kaya mengimpor minyak zaitun dari luar Mekah untuk bahan bakar obor, yang disediakan secara gratis di bukit-bukit sekitar Mekah. Obor tersebut disediakan bagi kafilah-kafilah yang menempuh perjalanan malam agar tidak tersesat ketika menuju Mekah. Sebagaimana yang dituliskan Sejarawan pada masa Jahiliyah penerangan di malam hari sangat sulit dan jarang. Orang Arab biasa makan sebelum gelap tiba. Disebutkan dalam sebuah pepatah Arab "Sebaik-baik makan malam adalah jika makanannya masih bisa dilihat."

Banyak suku yang akhirnya menetap di Mekah karena lelah setelah hidup dengan cara Nomaden, mereka menetap di tempat yang suci yang berada di tanah tandus dan lahan hijau, serta diantara bukit dan lembah. Suku-suku ini tinggal di Mekah selama musim semi dan gugur, sedangkan saat musim dingin mereka menghabiskan waktu di Jeddah, dan di tepi pantai laut merah. Sementara saat musim panas mereka menghabiskan waktu di Thaif yang terletak tidak jauh dari Mekah (Al-Husaini, al-Idarah al-Arabiyyah, hal 29).

Suku-suku itu memilih tempat tinggal di Mekah karena Mekah dalah kota Suci, tempat berdirinya Ka'bah yang agung. Selain itu, pasar-pasar di Mekah menyediakan berbagai jenis komoditas dari segala penjuru dunia seperti India, Persia, Cina, Syam m, Mesir, dan Yaman. Terus, makin kama mereka mulai membangun rumah permanen di sekitar Mekah dan hidup berdagang (Luthfi Jum'ah, Tsaurah al-Islam wa Bathal al-Anbiya', hal. 41).

Tegar Pungkas
🦉
-—-———----———---———----



Tidak ada komentar: