Powered By Blogger

Kamis, 04 Oktober 2018

Tahap-tahap Lepasnya Yakjuj dan Makjuj ke Dunia


Tahap-tahap Lepasnya Yakjuj dan Makjuj ke Dunia

Oleh Syeikh Imran Husein

Jika kita telah meyakini lepasnya Yakjuj dan Makjuj sudah terjadi, kita perlu menentukan tata cara pelepasan mereka. Ada beberapa indikasi bahwa lepasnya mereka ke dunia terjadi secara bertahap. Hal ini jelas dari Hadits yang menggambarkan mereka melewati Danau Galilee:

Orang pertama dari mereka akan melewati Danau Tiberias (yakni Danau Galilee) dan meminum airnya, dan saat orang yang terakhir lewat, dia akan berkata: ‘Dulu pernah ada air di sini . . . .’”
(Sahih Muslim)

Hal ini juga jelas dari ayat-ayat Al-Qur’an (al-Anbiyah, 21:95-96) yang menyatakan bahwa setelah mereka dilepas, Yakjuj dan Makjuj akan menyebar ke segala arah atau turun dari setiap ketinggian dan hanya setelah itu penduduk suatu ‘kota’ dibawa kembali untuk memiliki ‘kota’ itu lagi. Akibatnya kita sekarang ada dalam posisi untuk menentukan tahapan lepasnya mereka dengan tepat.
Karena permukaan air di Danau Galilee saat ini begitu rendah sehingga Danau itu dapat dianggap telah mati (sebuah fakta yang para pembaca dapat dengan mudah memverifikasi dengan Google) maka lepasnya Yakjuj dan Makjuj saat ini mendekati tahap akhir.
Hal ini lebih jauh ditegaskan dengan identifikasi ‘Jerusalem’ sebagai ‘kota’ yang disebutkan dalam dua ayat Surat al-Anbiyah (95 dan 96). Fakta bahwa kaum Bani Israil sekarang telah kembali untuk memiliki ‘kota’ itu lagi menandakan bahwa Yakjuj dan Makjuj saat ini dengan berhasil telah menyebar ke segala arah dan mengambil alih kendali dunia.

Ada dampak-dampak sangat buruk yang muncul dari identifikasi bahwa Yakjuj dan Makjuj mendekati tahap akhir pelepasan mereka, dan itu berhubungan dengan hal-hal berikut:
- Keadaan dunia, dan
- Nasib bangsa Arab.

Saat Nabi yang diberkahi (sallalahu ‘alaihi wa sallam) mengalami penglihatan yang dilaporkan oleh Zainab binti Jahsy menandakan bahwa lepasnya Yakjuj dan Makjuj telah dimulai (lihat bab tiga untuk Hadits tersebut), dia terbangun dengan kata-kata “La ilaha illa Allah! Wailun lil Arab min syarrin qad iqtaraba” “Tidak ada Tuhan kecuali Allah! Malapetaka bagi bangsa Arab karena kejahatan yang mendekat.” Zainab (radiallahu ‘anha) menanggapi dengan mengungkap informasi mengenai lepasnya Yakjuj dan Makjuj dan bahayanya bagi bangsa Arab dengan menanyakan, “akankah kita dihancurkan bahkan meskipun ada banyak orang saleh di tengah-tengah kita?” Nabi menjawab dengan kata-kata, “N’am idza katsura al-khabats” “Iya! Jika khabats menang (di dunia)”. Khabats (kha ba tsa) artinya sampah, limbah, kotoran, dll. Sedangkan Khubts (kha ba tsa) artinya kejahatan, kekejaman, dll. Dengan demikian, tidak hanya bangsa Arab pada akhirnya akan dibinasakan tetapi juga kebinasaan mereka akan terjadi pada saat orang-orang jahat menang di dunia dan dunia pun menjadi seperti tempat pembuangan sampah global dengan kebusukan, kerusakan, kevulgaran, dan kecabulan moral.
Apa yang Hadits ini telah sampaikan adalah cara untuk menentukan garis waktu bagi kebinasaan bangsa Arab, yakni seiring dengan Khabats meningkat di dunia, kebinasaan mereka di tangan Yakjuj dan Makjuj akan semakin mendekat dan lebih dekat lagi. Hal ini jelas, bahkan saat kami menulis buku ini, bahwa saat ini dunia dikuasai oleh orang-orang terjahat dalam sejarah, bahwa dunia sudah runtuh sampai dalam keadaan seperti tempat sampah, maka kebinasaan bangsa Arab sudah dimulai.

Dunia saat ini akan menyaksikan drama paradoks kehancuran bangsa Arab di Tanah Suci dan di mana pun di wilayah Arab, yang dengan berani diramalkan sendiri oleh Nabi Arab Muhammad lebih dari empat belas abad yang lalu, menegaskan klaimnya bahwa dia benar-benar seorang Nabi Tuhan Yang Maha Esa, dan dengan demikian menegaskan klaim Islam atas Kebenaran.
Hanya ada satu cara agar umat muslim dapat mempertahankan iman mereka di dunia yang seperti itu dan cara itu disampaikan Al-Qur’an dalam Surat al-Kahfi (Surat yang melindungi kita dari Dajjal). Cara untuk mendapat keselamatan itu adalah dengan melepaskan hubungan dari dunia tidak bertuhan. Proses melepaskan hubungan atau penarikan diri dari pemerintah-dunia Yakjuj dan Makjuj yang tidak bertuhan dan opresif, dan masyarakat global yang mereka ciptakan, dapat dengan baik dicapai jika umat muslim meneladani para pemuda dalam Surat al-Kahfi yang lari dari dunia yang tepat seperti itu dan mencari perlindungan di dalam sebuah gua.
Al-Qur’an sendiri mengarahkan umat muslim agar melepaskan hubungan dari tempat kediaman orang jahat:

“. . . Maka pisahkan kami dari orang-orang yang Fasiq (durhaka dan penuh dosa) itu!”
(Qur’an, al-Maidah 5:25)

Nabi (sallalahu ‘alaihi wa sallam) yang diberkahi juga, memperkirakan bahwa suatu waktu pelepasan hubungan akan datang, dan memberikan saran berikut:
Dari Abu Said al-Khudri: Rasulullah bersabda,

 “Akan tiba waktunya ketika kepemilikan terbaik dari seorang muslim adalah domba yang dia bawa ke puncak pegunungan dan tempat-tempat turunnya air hujan untuk melarikan diri bersama agamanya dari penderitaan.
(Sahih Bukhari)

Jika umat muslim berusaha menemukan petunjuk dari kisah para pemuda dalam Surat al-Kahfi pada akhirnya mereka akan menyadari bahwa mereka dapat secara efektif melindungi diri dan keluarga mereka dari ketidak-bertuhanan dan kejahatan yang sekarang mengepung dengan menarik diri ke tempat terpencil di mana Desa Muslim didirikan untuk melepaskan hubungan dari masyarakat Yakjuj dan Makjuj.

Umat muslim harus berkonsentrasi mendirikan komunitas mikro-Islam di mana pun mereka bisa. Jika sebuah Desa Muslim otentik didirikan dan jika itu menyediakan bagi umat muslim alat-alat untuk mempertahankan iman mereka di dunia yang semakin tidak bertuhan pada saat ini, maka Desa Muslim itu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

· Kehidupan publik Desa Muslim harus ditegakkan dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah. Apa pun yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah tidak boleh dianggap penting untuk bertahan hidup. Jika suatu praktik ibadah muslim tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah maka, tidak peduli berapa manfaatnya itu, atau berapa lama orang muslim mengamalkannya, ibadah itu tidak boleh dibawa ke dalam Masjid dan ke dalam kehidupan publik di Desa Muslim, tidak boleh juga hal itu dibiarkan menjadi alasan perpecahan dan konflik di antara umat muslim. Hanya dengan begitu, Desa Muslim dapat bertahan dalam ujian kontemporer jahat yang mengarah pada pembersihan komunitas Muslim dari semua praktik ibadah (secara berbahaya atau tidak) yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah dan tata cara kaum Salaf (yakni umat muslim generasi awal). Satu implikasi dari hal di atas adalah Halaqa Dzikir pembacaan secara bersama-sama Surat al-Kahfi pada setiap Hari Jumat dilakukan di tempat pribadi di dalam desa itu.

· Desa Muslim harus mencukupi sendiri kebutuhan makanan dan energi. Surat al-Kahfi dalam Al-Qur’an menunjukkan energi matahari sebagai alat yang dapat dimanfaatkan desa untuk mencapai swasembada energi:
“Kalian akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada di tempat yang luas di dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah. . . . Kalian mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri. . . .”
(Qur’an, al-Kahf 18:17-18)
‘Bolak-balik’ tubuh para pemuda ke kiri dan ke kanan terjadi dengan ‘matahari’. Fototropisme tumbuhan terjadi dengan daya tarik cahaya matahari. Tumbuhan tumbuh ke arah matahari. Dan akibat daya tarik matahari sehingga tubuh para pemuda yang sedang tertidur bolak-balik ke kanan dan ke kiri selama periode waktu yang begitu lama. Juga, tanaman mengubah cahaya matahari menjadi energi dan ini disebut fotosintesis. Adalah dengan suplai energi ini sehingga organ-organ vital mereka tetap hidup melalui tidur panjang. Desa Muslim harus menguasai proses fototropisme dan fotosintesis ini sehingga dapat memanfaatkan energi matahari untuk tujuan mencapai swasembada energi.

· Surat itu juga memperingatkan mengenai kemurnian mutlak makanan, dengan demikian, bersih dari pupuk kimia, rekayasa genetik, hormon-hormon dalam susu dan daging, dll. Kelebihan produksi makanan organik dari Desa Muslim ini dapat dipasarkan ke luar Desa dan ini akan menjadi bentuk dasar ekonomi Desa. Strategi pemasaran efektif dapat termasuk, contohnya, sebuah penjelasan mengenai hubungan antara makanan dengan seksualitas dan kejantanan. Dalam proses memproduksi makanan yang murni dan sehat, Desa Muslim dapat menunjukkan kemampuan yang masyarakat lain semakin tidak mampu lakukan. Hal yang sama dalam kemampuan Desa Muslim menyembuhkan kecanduan alkohol dan narkoba, membalikkan penurunan moralitas seksual, dan mempertahankan keutuhan keluarga pada waktu ketika keluarga runtuh di seluruh dunia, dll.

· Desa Muslim juga harus mendirikan pasar-mikro yang semandiri mungkin dari pasar-makro, dan menggunakan uang riil (yakni emas dan perak) alih-alih uang kertas buatan (yang kemudian akan digantikan dengan uang elektronik non-tunai) di pasar-makro. Dengan cara ini pasar-mikro akan bertahan ketika sistem keuangan internasional yang licik berdasarkan uang kertas runtuh. Saya memperkirakan sistem keuangan internasional yang berdasarkan uang kertas akan runtuh pada waktu ketika Israel melancarkan perang besarnya dalam perluasan wilayah untuk menguasai seluruh daerah dari ‘sungai Mesir’ (Nil?) sampai sungai ‘Eufrat’ di Irak. Perang itu sepertinya bisa terjadi kapan saja. Satu ciri paling penting dari pasar-mikro Desa Muslim adalah kepastian kekayaan beredar melalui perekonomian desa. Dengan cara ini, kaum miskin di desa tidak akan tetap miskin dan kaum kaya tidak akan tetap kaya. Karena segala bentuk Riba dilarang di desa (ini termasuk Riba ‘pintu depan’ dan ‘pintu belakang’), yang dikenal dengan bank-bank Syariah tidak dibolehkan melakukan bisnisnya di Desa Muslim.

· Desa Muslim harus melakukan usaha sungguh-sungguh untuk mengejar al-Ihsan (atau Tasawuf) untuk mencapai ilmu batin firasat spiritual. Maka kehidupan desa harus dalam bentuk kesederhanaan, ketakwaan, dan kesalehan. Harus ada penerapan ketat Syariat Islam. Sebagai tambahan, Desa Muslim harus mengambil kendali sepenuhnya atas pendidikan. Al-Qur’an harus tetap menjadi pusat sistem pendidikan di seluruh tahap pendidikan. Sekolah Muslim di Desa Muslim memiliki satu kelebihan besar daripada sekolah yang ada di luar. Anak-anak di sekolah Muslim didukung oleh komunitas Muslim yang menghidupkan Islam! Hanya anak-anak seperti itu yang benar-benar dilatih dan dididik sebagai umat muslim!

· Semua orang muslim yang tinggal di Desa Muslim harus secara kolektif sebagai Satu Jama’ah di bawah kepemimpinan Satu Amir. Seorang Amir haruslah orang yang mengerti Din (agama) dan menghidupkan Din. Dia pun harus mengetahui dunia masa kini. Tidak peduli apakah dia orang Arab, Afrika, Turki, India, Melayu, atau lainnya, dia harus menerapkan Din bagi seluruh Jama’ah dan mereka harus menanggapi dengan as-Sam’u wa at-Ta’atu (mendengar dan menaati). Hal ini akan mempertahankan integritas internal dan kedisiplinan Desa Muslim.

· Desa Muslim tidak boleh digunakan, dan harus tidak digunakan, sebagai batu loncatan untuk pada akhirnya menguasai Negara. Islam tidak dapat mengambil alih kekuasaan Negara dan Khilafah Islam tidak dapat direstorasi sementara pemerintah-dunia Yakjuj dan Makjuj bertahan. Meskipun demikian, perlawanan bersenjata terhadap penindasan dan pendudukan di wilayah dari Khorasan sampai di pusat penindasan di Jerusalem haruslah tidak boleh berhenti karena ada jaminan keberhasilan akhir yang sering disebutkan dalam buku ini.

· Satu-satunya tujuan Desa Muslim adalah untuk mempertahankan iman orang-orang beriman. Maka, Desa tidak boleh dipersenjatai kecuali dengan senjata-senjata yang dibutuhkan untuk membela diri dari perampok, bandit, pemerkosa, dan pencuri! Desa ini tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri jika diserang Negara. Sebagai tambahan, Desa dapat mengajak pemeluk Hindu, Kristen, dan agama lain tinggal dengan kaum Muslim di Desa dengan syarat mereka tidak memusuhi Islam dan mereka setuju berperilaku mematuhi norma-norma umum Desa. Dengan cara ini, umat non-Muslim sendiri dapat menghalau pembuat desas-desus dan ‘Thomas yang meragukan’ sifat keamanan Desa Muslim. Akan tetapi Desa Muslim, meski tidak dipersenjatai, tetap harus mengembangkan alat-alat untuk memastikan keselamatan dan keamanan kolektif semua penduduk desa. Ini bukanlah Desa di mana penduduknya harus hidup seperti narapidana dengan jeruji besi di setiap jendela di rumah mereka, dan dengan sistem keamanan mahal dan alarm-perampok yang dipasang di setiap rumah. Keamanan di Desa seharusnya sampai sedemikian sehingga bahkan seorang wanita dapat berjalan di dan sekitar Desa pada malam hari dengan sepenuhnya selamat dan aman. Kemanan Desa Muslim ini akan membuat pernyataan politik yang hebat kepada wilayah di sekitarnya.
Seluruh petunjuk Al-Qur’an dan Sunah yang harus diterapkan dalam tugas pendirian komunitas Islam-mikro di Desa Muslim, perlu diekstraksi dan diklasifikasi. Ini tepat merupakan tugas yang telah diselesaikan oleh guru kami dengan memori yang diberkahi, Maulana Dr. Fadlur Rahman Ansari (rahimahullah) dalam karya besarnya yang berjudul ‘The Qur’anic Foundations and Structure of Muslim Society’ (Dasar-dasar dan Struktur Masyarakat Muslim Berdasarkan Al-Qur’an). Dia juga telah menyusun konsep spiritualitas Islam dengan sangat cermat dan dengan sangat terperinci, dan dengan melakukannya dia telah menjawab para pengkritik yang bahkan belum muncul pada waktu buku itu ditulis. Tetapi, ‘spiritualitas’ tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu ada perjuangan untuk mencapai kesucian jiwa. Salah satu pencapaian besar buku ini adalah penjelasan dan klasifikasi terperincinya mengenai kode moral Islam dan penjelasan dan petunjuk indah tentang metodologi Tazkiyah (penyucian jiwa) dan Dzikir (yakni keharuman yang hanya dapat dirasakan cinta sejati saat hati selalu ingat kepada yang dicintai).

‘Dasar-dasar dan Struktur Masyarakat Muslim Berdasarkan Al-Qur’an’ merupakan sebuah buku teks, buku kerja, dan navigator agar umat Muslim dapat bertahan melalui badai zaman masa kini. Buku itu dapat digunakan sebagai panduan manual yang akan membimbing umat Muslim jika sekarang mereka berusaha mendirikan komunitas Muslim otentik di wilayah terpencil berupa Desa Muslim yang terlepas dari hubungan dengan pemerintah-dunia Yakjuj dan Makjuj dan dengan demikian menjadi fasilitas penarikan diri dari masyarakat sekuler dekaden tidak bertuhan zaman modern.



Yakjuj dan Makjuj, aktor sekaligus sutradara dari Pemusnah Seluruh Ras

Yakjuj dan Makjuj, sang aktor dan sutradara Pemusnah Seluruh Ras

1. Rekor Inggris di Tasmania
Ekspansi penjajahan memusnahkan seluruh penduduk pribumi dalam 104 tahun,
menurut pengamatan J.W. Pynter, yang meneliti sejarah tragis Tasmania dan hasilnya
dilaporkan dalam bukunya yang berjudul The Inquirer (Sang Penyelidik).
Pulau Tasmania mendapatkan namanya dari Abel Jansen Tasman, yang pertama kali
menemukannya pada tahun 1642. Tidak sampai satu setengah abad kemudian tidak
seorang kulit putih pun yang melihat suku aborigin di pulau itu. Seorang Kapten Prancis
mendarat dengan para awak kapalnya di sana pada tahun 1772 dan bertemu dengan
sekelompok suku pribumi, seseorang dari mereka mengajukan dan menawarkan tongkat yang dibakar kepada sang pelaut. Orang Prancis itu menafsirkan maksud perbuatan itu sebagai tanda peristiwa serangan dan penembakan terbuka terhadap suku pribumi, yang
lari, meninggalkan yang mati dan terluka.
Kebiadaban yang Mengerikan
Pada tahun 1803, seorang Kapten Inggris ditugaskan untuk melakukan penyelesaian di Tasmania. Tragedi pun dimulai.

Suatu hari beberapa orang suku pribumi, termasuk wanita dan anak-anak, muncul di dataran tinggi di atas permukiman kulit putih. Mereka tidak menunjukkan permusuhan, tetapi untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, penembakan dilakukan terhadap mereka dan beberapa terbunuh.
Begitu mengerikan perilaku kulit putih sehingga pada tahun 1817 Gubernur Sorell
terpaksa menerbitkan proklamasi yang melawan kebiadaban terhadap orang-orang
aborigin.

2. Digunakan sebagai Target!
Musuh-musuh terburuk bagi orang-orang pribumi adalah orang-orang kulit putih
pelanggar hukum. Mereka mengikat orang-orang pribumi di pohon dan menggunakan
mereka sebagai target, atau menyeret wanita-wanita pribumi dengan paksa. Dan aksi
kriminal mereka menuntun pada penerbitan proklamasi pada tahun 1824, memperingatkan “penduduk pendatang” agar tidak melakukan pembunuhan massal (genosida) penduduk pribumi.

Peperangan meskipun begitu, tetap berlanjut.
Ajal terakhir penduduk pribumi datang dengan keputusan tanpa perasaan untuk
memindahkan semua penduduk pribumi dari pulau utama menuju satu pulau kecil di
Selat Bass adalah sebuah tempat yang tandus, di mana mereka menjemput ajal dengan cepat.

Pada bulan Februari 1869, pria Tasmania terakhir mati – William Laune. Pada bulan
Mei 1876, Truganina mati, wanita terakhir.
AS melanjutkan Inggris sebagai pemimpin aliansi misterius Manusia tak Ber-Tuhan yang mengendalikan dunia dan memerangi Islam dan umat muslim demi kepentingan Negara Euro-Yahudi Israel (Israeli Khilafah) Adalah aliansi Manusia yang menjadikan Kedok Agama mereka untuk membuat peradaban sekuler Barat modern dan menggunakan peradaban itu untuk memeluk seluruh manusia dalam pelukan dekaden dan tidak bertuhan.

Aliansi tersebut memastikan kemenangan besarnya dengan keruntuhan
Khilafah Islam Ottoman dan Darul Islam, menggantinya dengan Negara-boneka
seperti Republik Turki dan Kerajaan Saudi Arabia. Sebagai akibatnya, aliansi
Manusia tak Bertuhan ini secara efektif mengendalikan Haramain dan Hajj. Artikel ni mengenali bahwa aliansi Manusia tak Bertuhan adalah pencipta tatanan dunia Ya’juj dan Ma’juj. Tampaknya hanya masalah waktu sebelum mereka pun akan berhasil memenuhi ramalan Nabi Muhammad yang ada dalam Sahih Bukhari bahwa:

“orang-orang akan terus melakukan ibadah Haji dan Umrah bahkan
setelah lepasnya Ya’juj dan Ma’juj, tetapi Kiamat tidak akan datang sebelum
ibadah Haji (yang sah) tidak lagi ada.”

Sebuah ayat dalam Al-Qur’an Surat al-Maidah memperkirakan kemunculan aliansi Manusia Fasik dan dengan keras melarang persahabatan dan aliansi umat
muslim dengan umat Kristen dan Yahudi tersebut. Sulit menerjemahkan ayat itu
tanpa menambahkan tafsir penjelasannya.

“Hai orang-orang yang beriman (kepada Allah SWT), janganlah kalian mengambil
orang-orang Yahudi dan Kristen sebagai sahabat, aliansi, pelindung atau
pendukung. (Mengapa demikian?) (karena) sebagian (di antara) mereka adalah (atau
akan menjadi) sahabat, aliansi, pendukung bagi sebagian yang lain (di antara mereka).

(Dengan demikian, ayat ini tidak melarang umat Muslim menjalani hubungan sahabat
dengan semua pemeluk Yahudi dan Kristen, akan tetapi ayat ini melarang umat Muslim
bergabung dengan mereka dalam aliansi-aliansi seperti CENTO, SEATO, NATO, atau
hubungan-hubungan semacam itu yang telah mengubah tanah Arab menjadi Kerajaan
Saudi-Amerika dan bukan hanya saja sebagai pengkhianatan Umat Islam, tetap untuk seluruh Umat yang berpegang teguh terhadap keadilan dan keadilan itu tentu datang atas hati nurani.
Ayat ini memperkirakan datangnya suatu waktu saat Kristen dan Yahudi
tertentu secara aneh dan misterius melakukan rekonsiliasi satu sama lain, kemudian
membentuk aliansi yang bertujuan untuk melaksanakan Genosida. Al-Qur’an membedakan antara orang-orang Kristen
yang bersekutu dengan kaum Yahudi tertentu dengan orang-orang Kristen lainnya (lihat
Qur’an, al-Maidah 5:82) yang menjadi teman paling dekat dengan umat muslim. Hanya
dengan kaum Kristen dan Yahudi yang membentuk persekutuan satu sama lain, Allah Subhana wata'ala melarang persahabatan dan aliansi) Dan barangsiapa di antara kalian mengambil
mereka sebagai sahabat, aliansi, pelindung, atau pendukung, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Orang muslim yang seperti itu masuk ke dalam
masyarakat global tidak bertuhan Yakjuj dan Makjuj, dan akan kehilangan
Islam mereka) Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim.

(Qur’an, al-Maidah 5: 51)
Ayat Al-Qur’an yang diberkahi ini menyampaikan kepada umat Muslim
sebuah peringatan yang sungguh sangat serius, melarang masuk ke dalam dekapan
orang-orang yang saat ini menguasai dunia (yakni pemerintah dunia Yakjuj dan
Makjuj) dan memerangi Islam dan umat Muslim. Dan inilah tepatnya apa yang
dilakukan Negara-boneka Kerajaan Saudi Arabia, dan apa yang oleh begitu
banyak ulama neo-Salafi tidak mengenalinya, atau sulit mengenalinya.
Sesungguhnya, inilah apa yang seluruh dunia Islam telah lakukan dengan
membiarkan diri mereka dijebak dalam dekapan jahat Perserikatan Bangsa-
Bangsa, Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dll. Itulah prakiraan
tepat tentang penindasan yang dilakukan oleh aliansi tersebut
yang Nabi Muhammad (sallalahu ‘alaihi wa sallam) nyatakan 1400 tahun yang lalu:

“Kalian (umat Muslim) pasti akan memerangi umat Yahudi (yakni orang-orang Yahudi
yang menindas kalian), dan kalian pasti akan membunuh mereka (yakni kalian akan
menang) sehingga bahkan batu akan berbicara dan berkata Ya Muslim, ada seorang
Yahudi bersembunyi di belakangku, maka datang dan bunuhlah dia”.
(Bukhari, Muslim)

Allah SWT telah menyatakan, “barangsiapa di antara kalian mengambil mereka sebagai sahabat dan aliansi maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (dan dengan demikian bukan lagi termasuk golongan kita)”,

dengan demikian umat Muslim sekarang memerlukan sebuah teologi politik Islam
yang dengan itu mereka dapat menanggapi dampak-dampak perilaku yang dengan
begitu keras dikutuk Allah SWT Sendiri. Perilaku itu sekarang telah dengan tidak
menyenangkan muncul di tengah-tengah mereka dalam bentuk penyembahan
universal tidak masuk akal dan bodoh.

Implikasi tambahan lepasnya Ya’juj dan Ma’juj ke dunia disampaikan Surat al-
Kahfi dalam Al-Qur’an yang diberkahi. Setelah Dzulqarnayn membangun dinding penghalang yang secara efektif mengurung Yakjuj dan Makjuj, dia menyatakan bahwa (pembangunan) dinding penghalang itu adalah (bentuk) Rahmat Allah. Dia memperingatkan, meskipun demikian, jika janji Allah SWT tiba (yakni permulaan Yaum al-Qiyamah / kiamat) Dia, SWT, akan meruntuhkan atau
menghancurkan dinding penghalang dan melepas Ya’juj dan Ma’juj ke dunia

Jumat, 20 April 2018

Kebutuhan Umat pada Seorang Pemberani

Oleh: Tegar P. Prastowo

Dewasa ini, ujian yang menerpa Umat Islam sangat besar sekali. seperti sebuah kapal besar yang sedang berada dalam badai yang besar. Dan agar kapal itu dapat berlabuh dengan selamat di pelabuhan, maka kita semua harus menyiapkan banyak bekal, diantaranya bekal iman, bekal akidah dan akhlak. Juga harus mengajarkan kebaikan, kebajikan, kejujuran dan bukan hanya kepada sesama umat, melainkan kepada sesama Manusia. Manusia harus bersatu padu menyatukan kekuatan. Karena sebetulnya Manusia hanya memiliki Satu tujuan, satu tekad, dan satu semboyan yakni:

QS. Thaha 20 ayat 84:
...dan aku bersegera kepada-Mu, ya Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).

Kuat dan lemahnya sebuah bangsa diukur dari kemampuan mencetak laki-laki pemberani. Saya yakin, bahwa seorang laki-laki mampu membangun sebuah bangsa jika sifat beraninya terbentuk secara benar (terbentuk sesuai ketentuan Quran dan Hadits). Namun di sisi lain, ia juga sangat mampu menghancurkan sebuah bangsanya sendiri jika keberaniannya cenderung mengarah pada sifat mufsiduuna fil ardh (perusak bumi) dalam kata dasar adalah fasad dalam terjemahan bahasa qurais, yang artinya adalah merusak.

Abdullah Ibnu Umar RA. pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Manusia bagaikan segerombolan unta yang hampir tidak kamu temukan seekor unta pun unta yang kuat. (HR. Muslim, Fadha il ash-Shahabah, no 2547, hlm.232, at-Tirmizi).

Dalam hal ini Ibnu Hajar menjelaskan, "Dalam seratus ekor unta, kamu tidak akan menemukan seekor pun unta yang kuat. Sebab, yang pantas dijadikan sebagai tunggangan adalah unta yang tegap jalannya dan mudah diatur. Seperti inilah analogi manusia. Dalam seratus orang, Anda tidak akan menemukan seorang pun yang pantas dijadikan teman, sahabat, yang akan menolong dan saling mengasihi temannya".

Syauqi bersyair: Orasi-orasi Agung telah memenuhi barat dan timur, Seorang Laki-laki telah mati, namun para laki--laki jumlahnya sedikit. 

Maka dari itu, sudah bukan waktunya lagi, Umat Islam untuk bersantai-santai, menikmati indahnya kekayaan alam negeri, dan menikmati nyamanya dan bahagianya ketika berada / bersama sanak keluarga, padalah kita tidak akan pernah tau, esok hari dunia / negeri yang kita tinggali ini akan seperti apa. Dan sudah saatnya para kaum Laki-laki di seluruh penjuru Negeri, membentuk kader-kader / bahkan dirinya sendiri untuk menjadi laki-laki yang pemberani yang religius.

sumber: Al Qur'an Suratul Thaha ayat 84, HR. Muslim, "Seberapa berani Anda membela Islam-Na'im Yusuf"
Sejarah Keberadaan Berhala disekitar Ka'bah pada Era Quraisy.

Di era kekuasaan Quraisy terhadap bangsa Arab, ketika Ka'bah menjadi tujuan ibadah tiap suku-suku Arab, ia mnenjadi sumberbrwzeki bagi penduduk Mekah. Saat itu, kaum Quraisy meletakan seluruh berhala yang menjadi sesembahan suku Arab di sekeliling Ka'bah. Sekitar ratusan atau sekitar 360 berhala [1] mulai dari yang paling besar hingga yang terkecil. Bentuk dan rupanya pun berbagai macam, seperti manusia, binatang, tumbuhan dan lain-lain. Mengapa mereka kaum Quraisy berbuat demikian, itu tentunya karena mereka sadar bahwa jika bukan karena pesona Ka'bah, mereka tidak akan bisa hidup di lembah yang tandus itu. Lalu, mereka pun membuat aturan tentang larangan peperangan. Di sisi lain, mereka juga menjamin keamanan para tamu, baik yang datang untuk beribadah atau sekadar berdagang. Bukti bahwa begitu luar biasanya Kaum Quraisy itu.

Berkat adanya berhala itulah, pengurus Ka'bah berhasil meraup keuntungan yang besar. Mereka menjual lembaran-lembaran syair paganisme yang ketika itu tersebar di daerah Mesir, Yunani, India, dan Babak. Setiap orang yang datang ingin bersumpah di depan berhala-berhala tersebut, serta minta petunjuk dan harus membayar tarif tertentu pada mereka. Selain itu, para pengunjung juga membeli berbagai keperluan untuk mereka (berhala). Inilah salah satu yang menjadikan kota Mekah sebagai pusat transaksi perdangan.

Beberapa suku yang datang ke Ka'bah mengagungkan dan hanya menyembah berhala-berhala tertentu, seperti Wad, Suwa', Yaghuts, Ya'uqb & Nasr. Yang kelima behala inilah yang dulu pernah sebagai sesembahan kaum Nabi Nuh as. Sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Qur'an, QS Nuh (71): ayat 21-24.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar. Dan mereka berkata, " Jangan sekali-kali meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uqb dan Nasr. Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang; dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan".
'QS Nuh ayat 21-24'

Namun, ada juga beberapa berhala yang sangat terkenal dan diagungkan hampir semua suku yakni, Latta, Uzza, dan Manat. Al Qur'an mengisahkan tentang berhala-berhala tersebut, daam QS an-Najm ayat 19-22:

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?, Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil."

Latta adalah berhala berbentuk batu segi empat (rectangular stone) yang ada di Thaif, di atasnya ada sebuah bangunan dan tanah sekelilingnya juga dianggap sebagai Tanah Haram. Banyak suku dari Bangsa Aran berziarah dan mempersembahkan hewan kurban di sana. Berhala ini di bawah tanggung jawab Bani Mughits dari Suku Tsaqif, orang-orang Tsaqif berusaha menjadikan Latta sebagai tandingan Ka'bah yang saat itu dibawah kuasa suku Quraisy di Mekah.

Sedangkan Uzza adala pohon besar (the great tree) di lembah Nakhlah di timur Mekah. Uzza termasuk berhala terbesar kaum Quraisy. Mereka berziarah dan mempersembahkan hewan qurban padanya. Mereka juga menetapkan Tanah Haram di sekitar berhala itu, seperti Ka'bah. Hingga karena besarnya berhala tersebut, penghormatan mereka terhadap Uzza, banyak di antara mereka menamai nama anak-anak mereka dengan Abdul Uzza (hamabnya Uzza). [2]

Adapun Manat (Manah) adalah black stone (batu hitam) yang berada di tempat peribadatan di Qadid, yang terletak antara Mekah dan Yastrib. Berhala ini dianggap sebagai tuhan qadha (penentu / the determinant), yang bertugas menetukan kematian seseorang. Berhala lain milik Quraisy adalah Qubal yang berbentuk manusia yang terbuat dari batu.

Lalu, mereka kemudian membuat patung-patung initasi (KW) untuk mereka sesembahi sendiri, dan banyak dari mereka yang menyadari bahwa Berhala-berhala tersebut tak dapat membawa kebaikan dan keburukan untuk mereka.

Tidak semua Bangsa Arab menyembah berhala, sebagian bangsa Arab ada yang sadar bahwa semua berhala tidaklah mendatangkan kemudharatan atau manfaat. Tetapi mereka tidak mampu untuk melawa arus, apalagi berhala-berhala tersebut sudah ada disekitar Ka'bah selama beberapa abad.

Pada awalnya suku-suk arab itu melakukan ritual bukan menyembah berhala, tetapi menganggap mereka sebagai peratara antara mereka dengan Allah. Karena mereka berkeyakinan bahwa doa yang ditujukan langsung kepada Allah tak akan dikabulkan, kecuali melalui perantara berupa berhala dengan dicampuri berbagai ritual khusus (mirip dengan saat ini). Sejarawan Arab modern, Muhammad Daruzah, berpendapat bahwa sebagian bangsa Arab sebelum Islam mengakui adanya Tuhan, sebagai pencipta, pengatur dan menguasai Alam semesta, menghidupkan dan mematikan  serta memberi rezeki kepada Manusia dan mengutus para Nabi. Sebagian bangsa Arab yang lain berkeyakinan bahwa yang mereka lakukan, baik tradisi atau ritua-ritual lainnya adalah perintah Allah. Menurut mereka Allah meridhoi tindakan mereka dengan menjadikan berhala sebagai perantar ibadah Habluminallah. Kesimpulannya mereka mengakui adanya Allah, meskipun pada saat yang sama mereka menyembah selain Allah.

by Tegar Pungkas

Catatan kaki:
1. George Zidan, Tarikh at-Tamaddub al-Islami (kairo: Dar al-Khutub al-Mishriyah. 1958,) jil. I;
2. Ibnu al-Kalbi, kitab al-Ashnam  hal 13-15.

Sumber: Sejarah Ka'bah oleh Prof. DR. Ali Husni al-Kharbuthi..