Powered By Blogger

Kamis, 04 Oktober 2018

Tahap-tahap Lepasnya Yakjuj dan Makjuj ke Dunia


Tahap-tahap Lepasnya Yakjuj dan Makjuj ke Dunia

Oleh Syeikh Imran Husein

Jika kita telah meyakini lepasnya Yakjuj dan Makjuj sudah terjadi, kita perlu menentukan tata cara pelepasan mereka. Ada beberapa indikasi bahwa lepasnya mereka ke dunia terjadi secara bertahap. Hal ini jelas dari Hadits yang menggambarkan mereka melewati Danau Galilee:

Orang pertama dari mereka akan melewati Danau Tiberias (yakni Danau Galilee) dan meminum airnya, dan saat orang yang terakhir lewat, dia akan berkata: ‘Dulu pernah ada air di sini . . . .’”
(Sahih Muslim)

Hal ini juga jelas dari ayat-ayat Al-Qur’an (al-Anbiyah, 21:95-96) yang menyatakan bahwa setelah mereka dilepas, Yakjuj dan Makjuj akan menyebar ke segala arah atau turun dari setiap ketinggian dan hanya setelah itu penduduk suatu ‘kota’ dibawa kembali untuk memiliki ‘kota’ itu lagi. Akibatnya kita sekarang ada dalam posisi untuk menentukan tahapan lepasnya mereka dengan tepat.
Karena permukaan air di Danau Galilee saat ini begitu rendah sehingga Danau itu dapat dianggap telah mati (sebuah fakta yang para pembaca dapat dengan mudah memverifikasi dengan Google) maka lepasnya Yakjuj dan Makjuj saat ini mendekati tahap akhir.
Hal ini lebih jauh ditegaskan dengan identifikasi ‘Jerusalem’ sebagai ‘kota’ yang disebutkan dalam dua ayat Surat al-Anbiyah (95 dan 96). Fakta bahwa kaum Bani Israil sekarang telah kembali untuk memiliki ‘kota’ itu lagi menandakan bahwa Yakjuj dan Makjuj saat ini dengan berhasil telah menyebar ke segala arah dan mengambil alih kendali dunia.

Ada dampak-dampak sangat buruk yang muncul dari identifikasi bahwa Yakjuj dan Makjuj mendekati tahap akhir pelepasan mereka, dan itu berhubungan dengan hal-hal berikut:
- Keadaan dunia, dan
- Nasib bangsa Arab.

Saat Nabi yang diberkahi (sallalahu ‘alaihi wa sallam) mengalami penglihatan yang dilaporkan oleh Zainab binti Jahsy menandakan bahwa lepasnya Yakjuj dan Makjuj telah dimulai (lihat bab tiga untuk Hadits tersebut), dia terbangun dengan kata-kata “La ilaha illa Allah! Wailun lil Arab min syarrin qad iqtaraba” “Tidak ada Tuhan kecuali Allah! Malapetaka bagi bangsa Arab karena kejahatan yang mendekat.” Zainab (radiallahu ‘anha) menanggapi dengan mengungkap informasi mengenai lepasnya Yakjuj dan Makjuj dan bahayanya bagi bangsa Arab dengan menanyakan, “akankah kita dihancurkan bahkan meskipun ada banyak orang saleh di tengah-tengah kita?” Nabi menjawab dengan kata-kata, “N’am idza katsura al-khabats” “Iya! Jika khabats menang (di dunia)”. Khabats (kha ba tsa) artinya sampah, limbah, kotoran, dll. Sedangkan Khubts (kha ba tsa) artinya kejahatan, kekejaman, dll. Dengan demikian, tidak hanya bangsa Arab pada akhirnya akan dibinasakan tetapi juga kebinasaan mereka akan terjadi pada saat orang-orang jahat menang di dunia dan dunia pun menjadi seperti tempat pembuangan sampah global dengan kebusukan, kerusakan, kevulgaran, dan kecabulan moral.
Apa yang Hadits ini telah sampaikan adalah cara untuk menentukan garis waktu bagi kebinasaan bangsa Arab, yakni seiring dengan Khabats meningkat di dunia, kebinasaan mereka di tangan Yakjuj dan Makjuj akan semakin mendekat dan lebih dekat lagi. Hal ini jelas, bahkan saat kami menulis buku ini, bahwa saat ini dunia dikuasai oleh orang-orang terjahat dalam sejarah, bahwa dunia sudah runtuh sampai dalam keadaan seperti tempat sampah, maka kebinasaan bangsa Arab sudah dimulai.

Dunia saat ini akan menyaksikan drama paradoks kehancuran bangsa Arab di Tanah Suci dan di mana pun di wilayah Arab, yang dengan berani diramalkan sendiri oleh Nabi Arab Muhammad lebih dari empat belas abad yang lalu, menegaskan klaimnya bahwa dia benar-benar seorang Nabi Tuhan Yang Maha Esa, dan dengan demikian menegaskan klaim Islam atas Kebenaran.
Hanya ada satu cara agar umat muslim dapat mempertahankan iman mereka di dunia yang seperti itu dan cara itu disampaikan Al-Qur’an dalam Surat al-Kahfi (Surat yang melindungi kita dari Dajjal). Cara untuk mendapat keselamatan itu adalah dengan melepaskan hubungan dari dunia tidak bertuhan. Proses melepaskan hubungan atau penarikan diri dari pemerintah-dunia Yakjuj dan Makjuj yang tidak bertuhan dan opresif, dan masyarakat global yang mereka ciptakan, dapat dengan baik dicapai jika umat muslim meneladani para pemuda dalam Surat al-Kahfi yang lari dari dunia yang tepat seperti itu dan mencari perlindungan di dalam sebuah gua.
Al-Qur’an sendiri mengarahkan umat muslim agar melepaskan hubungan dari tempat kediaman orang jahat:

“. . . Maka pisahkan kami dari orang-orang yang Fasiq (durhaka dan penuh dosa) itu!”
(Qur’an, al-Maidah 5:25)

Nabi (sallalahu ‘alaihi wa sallam) yang diberkahi juga, memperkirakan bahwa suatu waktu pelepasan hubungan akan datang, dan memberikan saran berikut:
Dari Abu Said al-Khudri: Rasulullah bersabda,

 “Akan tiba waktunya ketika kepemilikan terbaik dari seorang muslim adalah domba yang dia bawa ke puncak pegunungan dan tempat-tempat turunnya air hujan untuk melarikan diri bersama agamanya dari penderitaan.
(Sahih Bukhari)

Jika umat muslim berusaha menemukan petunjuk dari kisah para pemuda dalam Surat al-Kahfi pada akhirnya mereka akan menyadari bahwa mereka dapat secara efektif melindungi diri dan keluarga mereka dari ketidak-bertuhanan dan kejahatan yang sekarang mengepung dengan menarik diri ke tempat terpencil di mana Desa Muslim didirikan untuk melepaskan hubungan dari masyarakat Yakjuj dan Makjuj.

Umat muslim harus berkonsentrasi mendirikan komunitas mikro-Islam di mana pun mereka bisa. Jika sebuah Desa Muslim otentik didirikan dan jika itu menyediakan bagi umat muslim alat-alat untuk mempertahankan iman mereka di dunia yang semakin tidak bertuhan pada saat ini, maka Desa Muslim itu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

· Kehidupan publik Desa Muslim harus ditegakkan dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah. Apa pun yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah tidak boleh dianggap penting untuk bertahan hidup. Jika suatu praktik ibadah muslim tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah maka, tidak peduli berapa manfaatnya itu, atau berapa lama orang muslim mengamalkannya, ibadah itu tidak boleh dibawa ke dalam Masjid dan ke dalam kehidupan publik di Desa Muslim, tidak boleh juga hal itu dibiarkan menjadi alasan perpecahan dan konflik di antara umat muslim. Hanya dengan begitu, Desa Muslim dapat bertahan dalam ujian kontemporer jahat yang mengarah pada pembersihan komunitas Muslim dari semua praktik ibadah (secara berbahaya atau tidak) yang tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah dan tata cara kaum Salaf (yakni umat muslim generasi awal). Satu implikasi dari hal di atas adalah Halaqa Dzikir pembacaan secara bersama-sama Surat al-Kahfi pada setiap Hari Jumat dilakukan di tempat pribadi di dalam desa itu.

· Desa Muslim harus mencukupi sendiri kebutuhan makanan dan energi. Surat al-Kahfi dalam Al-Qur’an menunjukkan energi matahari sebagai alat yang dapat dimanfaatkan desa untuk mencapai swasembada energi:
“Kalian akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada di tempat yang luas di dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah. . . . Kalian mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri. . . .”
(Qur’an, al-Kahf 18:17-18)
‘Bolak-balik’ tubuh para pemuda ke kiri dan ke kanan terjadi dengan ‘matahari’. Fototropisme tumbuhan terjadi dengan daya tarik cahaya matahari. Tumbuhan tumbuh ke arah matahari. Dan akibat daya tarik matahari sehingga tubuh para pemuda yang sedang tertidur bolak-balik ke kanan dan ke kiri selama periode waktu yang begitu lama. Juga, tanaman mengubah cahaya matahari menjadi energi dan ini disebut fotosintesis. Adalah dengan suplai energi ini sehingga organ-organ vital mereka tetap hidup melalui tidur panjang. Desa Muslim harus menguasai proses fototropisme dan fotosintesis ini sehingga dapat memanfaatkan energi matahari untuk tujuan mencapai swasembada energi.

· Surat itu juga memperingatkan mengenai kemurnian mutlak makanan, dengan demikian, bersih dari pupuk kimia, rekayasa genetik, hormon-hormon dalam susu dan daging, dll. Kelebihan produksi makanan organik dari Desa Muslim ini dapat dipasarkan ke luar Desa dan ini akan menjadi bentuk dasar ekonomi Desa. Strategi pemasaran efektif dapat termasuk, contohnya, sebuah penjelasan mengenai hubungan antara makanan dengan seksualitas dan kejantanan. Dalam proses memproduksi makanan yang murni dan sehat, Desa Muslim dapat menunjukkan kemampuan yang masyarakat lain semakin tidak mampu lakukan. Hal yang sama dalam kemampuan Desa Muslim menyembuhkan kecanduan alkohol dan narkoba, membalikkan penurunan moralitas seksual, dan mempertahankan keutuhan keluarga pada waktu ketika keluarga runtuh di seluruh dunia, dll.

· Desa Muslim juga harus mendirikan pasar-mikro yang semandiri mungkin dari pasar-makro, dan menggunakan uang riil (yakni emas dan perak) alih-alih uang kertas buatan (yang kemudian akan digantikan dengan uang elektronik non-tunai) di pasar-makro. Dengan cara ini pasar-mikro akan bertahan ketika sistem keuangan internasional yang licik berdasarkan uang kertas runtuh. Saya memperkirakan sistem keuangan internasional yang berdasarkan uang kertas akan runtuh pada waktu ketika Israel melancarkan perang besarnya dalam perluasan wilayah untuk menguasai seluruh daerah dari ‘sungai Mesir’ (Nil?) sampai sungai ‘Eufrat’ di Irak. Perang itu sepertinya bisa terjadi kapan saja. Satu ciri paling penting dari pasar-mikro Desa Muslim adalah kepastian kekayaan beredar melalui perekonomian desa. Dengan cara ini, kaum miskin di desa tidak akan tetap miskin dan kaum kaya tidak akan tetap kaya. Karena segala bentuk Riba dilarang di desa (ini termasuk Riba ‘pintu depan’ dan ‘pintu belakang’), yang dikenal dengan bank-bank Syariah tidak dibolehkan melakukan bisnisnya di Desa Muslim.

· Desa Muslim harus melakukan usaha sungguh-sungguh untuk mengejar al-Ihsan (atau Tasawuf) untuk mencapai ilmu batin firasat spiritual. Maka kehidupan desa harus dalam bentuk kesederhanaan, ketakwaan, dan kesalehan. Harus ada penerapan ketat Syariat Islam. Sebagai tambahan, Desa Muslim harus mengambil kendali sepenuhnya atas pendidikan. Al-Qur’an harus tetap menjadi pusat sistem pendidikan di seluruh tahap pendidikan. Sekolah Muslim di Desa Muslim memiliki satu kelebihan besar daripada sekolah yang ada di luar. Anak-anak di sekolah Muslim didukung oleh komunitas Muslim yang menghidupkan Islam! Hanya anak-anak seperti itu yang benar-benar dilatih dan dididik sebagai umat muslim!

· Semua orang muslim yang tinggal di Desa Muslim harus secara kolektif sebagai Satu Jama’ah di bawah kepemimpinan Satu Amir. Seorang Amir haruslah orang yang mengerti Din (agama) dan menghidupkan Din. Dia pun harus mengetahui dunia masa kini. Tidak peduli apakah dia orang Arab, Afrika, Turki, India, Melayu, atau lainnya, dia harus menerapkan Din bagi seluruh Jama’ah dan mereka harus menanggapi dengan as-Sam’u wa at-Ta’atu (mendengar dan menaati). Hal ini akan mempertahankan integritas internal dan kedisiplinan Desa Muslim.

· Desa Muslim tidak boleh digunakan, dan harus tidak digunakan, sebagai batu loncatan untuk pada akhirnya menguasai Negara. Islam tidak dapat mengambil alih kekuasaan Negara dan Khilafah Islam tidak dapat direstorasi sementara pemerintah-dunia Yakjuj dan Makjuj bertahan. Meskipun demikian, perlawanan bersenjata terhadap penindasan dan pendudukan di wilayah dari Khorasan sampai di pusat penindasan di Jerusalem haruslah tidak boleh berhenti karena ada jaminan keberhasilan akhir yang sering disebutkan dalam buku ini.

· Satu-satunya tujuan Desa Muslim adalah untuk mempertahankan iman orang-orang beriman. Maka, Desa tidak boleh dipersenjatai kecuali dengan senjata-senjata yang dibutuhkan untuk membela diri dari perampok, bandit, pemerkosa, dan pencuri! Desa ini tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri jika diserang Negara. Sebagai tambahan, Desa dapat mengajak pemeluk Hindu, Kristen, dan agama lain tinggal dengan kaum Muslim di Desa dengan syarat mereka tidak memusuhi Islam dan mereka setuju berperilaku mematuhi norma-norma umum Desa. Dengan cara ini, umat non-Muslim sendiri dapat menghalau pembuat desas-desus dan ‘Thomas yang meragukan’ sifat keamanan Desa Muslim. Akan tetapi Desa Muslim, meski tidak dipersenjatai, tetap harus mengembangkan alat-alat untuk memastikan keselamatan dan keamanan kolektif semua penduduk desa. Ini bukanlah Desa di mana penduduknya harus hidup seperti narapidana dengan jeruji besi di setiap jendela di rumah mereka, dan dengan sistem keamanan mahal dan alarm-perampok yang dipasang di setiap rumah. Keamanan di Desa seharusnya sampai sedemikian sehingga bahkan seorang wanita dapat berjalan di dan sekitar Desa pada malam hari dengan sepenuhnya selamat dan aman. Kemanan Desa Muslim ini akan membuat pernyataan politik yang hebat kepada wilayah di sekitarnya.
Seluruh petunjuk Al-Qur’an dan Sunah yang harus diterapkan dalam tugas pendirian komunitas Islam-mikro di Desa Muslim, perlu diekstraksi dan diklasifikasi. Ini tepat merupakan tugas yang telah diselesaikan oleh guru kami dengan memori yang diberkahi, Maulana Dr. Fadlur Rahman Ansari (rahimahullah) dalam karya besarnya yang berjudul ‘The Qur’anic Foundations and Structure of Muslim Society’ (Dasar-dasar dan Struktur Masyarakat Muslim Berdasarkan Al-Qur’an). Dia juga telah menyusun konsep spiritualitas Islam dengan sangat cermat dan dengan sangat terperinci, dan dengan melakukannya dia telah menjawab para pengkritik yang bahkan belum muncul pada waktu buku itu ditulis. Tetapi, ‘spiritualitas’ tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu ada perjuangan untuk mencapai kesucian jiwa. Salah satu pencapaian besar buku ini adalah penjelasan dan klasifikasi terperincinya mengenai kode moral Islam dan penjelasan dan petunjuk indah tentang metodologi Tazkiyah (penyucian jiwa) dan Dzikir (yakni keharuman yang hanya dapat dirasakan cinta sejati saat hati selalu ingat kepada yang dicintai).

‘Dasar-dasar dan Struktur Masyarakat Muslim Berdasarkan Al-Qur’an’ merupakan sebuah buku teks, buku kerja, dan navigator agar umat Muslim dapat bertahan melalui badai zaman masa kini. Buku itu dapat digunakan sebagai panduan manual yang akan membimbing umat Muslim jika sekarang mereka berusaha mendirikan komunitas Muslim otentik di wilayah terpencil berupa Desa Muslim yang terlepas dari hubungan dengan pemerintah-dunia Yakjuj dan Makjuj dan dengan demikian menjadi fasilitas penarikan diri dari masyarakat sekuler dekaden tidak bertuhan zaman modern.



Yakjuj dan Makjuj, aktor sekaligus sutradara dari Pemusnah Seluruh Ras

Yakjuj dan Makjuj, sang aktor dan sutradara Pemusnah Seluruh Ras

1. Rekor Inggris di Tasmania
Ekspansi penjajahan memusnahkan seluruh penduduk pribumi dalam 104 tahun,
menurut pengamatan J.W. Pynter, yang meneliti sejarah tragis Tasmania dan hasilnya
dilaporkan dalam bukunya yang berjudul The Inquirer (Sang Penyelidik).
Pulau Tasmania mendapatkan namanya dari Abel Jansen Tasman, yang pertama kali
menemukannya pada tahun 1642. Tidak sampai satu setengah abad kemudian tidak
seorang kulit putih pun yang melihat suku aborigin di pulau itu. Seorang Kapten Prancis
mendarat dengan para awak kapalnya di sana pada tahun 1772 dan bertemu dengan
sekelompok suku pribumi, seseorang dari mereka mengajukan dan menawarkan tongkat yang dibakar kepada sang pelaut. Orang Prancis itu menafsirkan maksud perbuatan itu sebagai tanda peristiwa serangan dan penembakan terbuka terhadap suku pribumi, yang
lari, meninggalkan yang mati dan terluka.
Kebiadaban yang Mengerikan
Pada tahun 1803, seorang Kapten Inggris ditugaskan untuk melakukan penyelesaian di Tasmania. Tragedi pun dimulai.

Suatu hari beberapa orang suku pribumi, termasuk wanita dan anak-anak, muncul di dataran tinggi di atas permukiman kulit putih. Mereka tidak menunjukkan permusuhan, tetapi untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, penembakan dilakukan terhadap mereka dan beberapa terbunuh.
Begitu mengerikan perilaku kulit putih sehingga pada tahun 1817 Gubernur Sorell
terpaksa menerbitkan proklamasi yang melawan kebiadaban terhadap orang-orang
aborigin.

2. Digunakan sebagai Target!
Musuh-musuh terburuk bagi orang-orang pribumi adalah orang-orang kulit putih
pelanggar hukum. Mereka mengikat orang-orang pribumi di pohon dan menggunakan
mereka sebagai target, atau menyeret wanita-wanita pribumi dengan paksa. Dan aksi
kriminal mereka menuntun pada penerbitan proklamasi pada tahun 1824, memperingatkan “penduduk pendatang” agar tidak melakukan pembunuhan massal (genosida) penduduk pribumi.

Peperangan meskipun begitu, tetap berlanjut.
Ajal terakhir penduduk pribumi datang dengan keputusan tanpa perasaan untuk
memindahkan semua penduduk pribumi dari pulau utama menuju satu pulau kecil di
Selat Bass adalah sebuah tempat yang tandus, di mana mereka menjemput ajal dengan cepat.

Pada bulan Februari 1869, pria Tasmania terakhir mati – William Laune. Pada bulan
Mei 1876, Truganina mati, wanita terakhir.
AS melanjutkan Inggris sebagai pemimpin aliansi misterius Manusia tak Ber-Tuhan yang mengendalikan dunia dan memerangi Islam dan umat muslim demi kepentingan Negara Euro-Yahudi Israel (Israeli Khilafah) Adalah aliansi Manusia yang menjadikan Kedok Agama mereka untuk membuat peradaban sekuler Barat modern dan menggunakan peradaban itu untuk memeluk seluruh manusia dalam pelukan dekaden dan tidak bertuhan.

Aliansi tersebut memastikan kemenangan besarnya dengan keruntuhan
Khilafah Islam Ottoman dan Darul Islam, menggantinya dengan Negara-boneka
seperti Republik Turki dan Kerajaan Saudi Arabia. Sebagai akibatnya, aliansi
Manusia tak Bertuhan ini secara efektif mengendalikan Haramain dan Hajj. Artikel ni mengenali bahwa aliansi Manusia tak Bertuhan adalah pencipta tatanan dunia Ya’juj dan Ma’juj. Tampaknya hanya masalah waktu sebelum mereka pun akan berhasil memenuhi ramalan Nabi Muhammad yang ada dalam Sahih Bukhari bahwa:

“orang-orang akan terus melakukan ibadah Haji dan Umrah bahkan
setelah lepasnya Ya’juj dan Ma’juj, tetapi Kiamat tidak akan datang sebelum
ibadah Haji (yang sah) tidak lagi ada.”

Sebuah ayat dalam Al-Qur’an Surat al-Maidah memperkirakan kemunculan aliansi Manusia Fasik dan dengan keras melarang persahabatan dan aliansi umat
muslim dengan umat Kristen dan Yahudi tersebut. Sulit menerjemahkan ayat itu
tanpa menambahkan tafsir penjelasannya.

“Hai orang-orang yang beriman (kepada Allah SWT), janganlah kalian mengambil
orang-orang Yahudi dan Kristen sebagai sahabat, aliansi, pelindung atau
pendukung. (Mengapa demikian?) (karena) sebagian (di antara) mereka adalah (atau
akan menjadi) sahabat, aliansi, pendukung bagi sebagian yang lain (di antara mereka).

(Dengan demikian, ayat ini tidak melarang umat Muslim menjalani hubungan sahabat
dengan semua pemeluk Yahudi dan Kristen, akan tetapi ayat ini melarang umat Muslim
bergabung dengan mereka dalam aliansi-aliansi seperti CENTO, SEATO, NATO, atau
hubungan-hubungan semacam itu yang telah mengubah tanah Arab menjadi Kerajaan
Saudi-Amerika dan bukan hanya saja sebagai pengkhianatan Umat Islam, tetap untuk seluruh Umat yang berpegang teguh terhadap keadilan dan keadilan itu tentu datang atas hati nurani.
Ayat ini memperkirakan datangnya suatu waktu saat Kristen dan Yahudi
tertentu secara aneh dan misterius melakukan rekonsiliasi satu sama lain, kemudian
membentuk aliansi yang bertujuan untuk melaksanakan Genosida. Al-Qur’an membedakan antara orang-orang Kristen
yang bersekutu dengan kaum Yahudi tertentu dengan orang-orang Kristen lainnya (lihat
Qur’an, al-Maidah 5:82) yang menjadi teman paling dekat dengan umat muslim. Hanya
dengan kaum Kristen dan Yahudi yang membentuk persekutuan satu sama lain, Allah Subhana wata'ala melarang persahabatan dan aliansi) Dan barangsiapa di antara kalian mengambil
mereka sebagai sahabat, aliansi, pelindung, atau pendukung, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Orang muslim yang seperti itu masuk ke dalam
masyarakat global tidak bertuhan Yakjuj dan Makjuj, dan akan kehilangan
Islam mereka) Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim.

(Qur’an, al-Maidah 5: 51)
Ayat Al-Qur’an yang diberkahi ini menyampaikan kepada umat Muslim
sebuah peringatan yang sungguh sangat serius, melarang masuk ke dalam dekapan
orang-orang yang saat ini menguasai dunia (yakni pemerintah dunia Yakjuj dan
Makjuj) dan memerangi Islam dan umat Muslim. Dan inilah tepatnya apa yang
dilakukan Negara-boneka Kerajaan Saudi Arabia, dan apa yang oleh begitu
banyak ulama neo-Salafi tidak mengenalinya, atau sulit mengenalinya.
Sesungguhnya, inilah apa yang seluruh dunia Islam telah lakukan dengan
membiarkan diri mereka dijebak dalam dekapan jahat Perserikatan Bangsa-
Bangsa, Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dll. Itulah prakiraan
tepat tentang penindasan yang dilakukan oleh aliansi tersebut
yang Nabi Muhammad (sallalahu ‘alaihi wa sallam) nyatakan 1400 tahun yang lalu:

“Kalian (umat Muslim) pasti akan memerangi umat Yahudi (yakni orang-orang Yahudi
yang menindas kalian), dan kalian pasti akan membunuh mereka (yakni kalian akan
menang) sehingga bahkan batu akan berbicara dan berkata Ya Muslim, ada seorang
Yahudi bersembunyi di belakangku, maka datang dan bunuhlah dia”.
(Bukhari, Muslim)

Allah SWT telah menyatakan, “barangsiapa di antara kalian mengambil mereka sebagai sahabat dan aliansi maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (dan dengan demikian bukan lagi termasuk golongan kita)”,

dengan demikian umat Muslim sekarang memerlukan sebuah teologi politik Islam
yang dengan itu mereka dapat menanggapi dampak-dampak perilaku yang dengan
begitu keras dikutuk Allah SWT Sendiri. Perilaku itu sekarang telah dengan tidak
menyenangkan muncul di tengah-tengah mereka dalam bentuk penyembahan
universal tidak masuk akal dan bodoh.

Implikasi tambahan lepasnya Ya’juj dan Ma’juj ke dunia disampaikan Surat al-
Kahfi dalam Al-Qur’an yang diberkahi. Setelah Dzulqarnayn membangun dinding penghalang yang secara efektif mengurung Yakjuj dan Makjuj, dia menyatakan bahwa (pembangunan) dinding penghalang itu adalah (bentuk) Rahmat Allah. Dia memperingatkan, meskipun demikian, jika janji Allah SWT tiba (yakni permulaan Yaum al-Qiyamah / kiamat) Dia, SWT, akan meruntuhkan atau
menghancurkan dinding penghalang dan melepas Ya’juj dan Ma’juj ke dunia

Jumat, 20 April 2018

Kebutuhan Umat pada Seorang Pemberani

Oleh: Tegar P. Prastowo

Dewasa ini, ujian yang menerpa Umat Islam sangat besar sekali. seperti sebuah kapal besar yang sedang berada dalam badai yang besar. Dan agar kapal itu dapat berlabuh dengan selamat di pelabuhan, maka kita semua harus menyiapkan banyak bekal, diantaranya bekal iman, bekal akidah dan akhlak. Juga harus mengajarkan kebaikan, kebajikan, kejujuran dan bukan hanya kepada sesama umat, melainkan kepada sesama Manusia. Manusia harus bersatu padu menyatukan kekuatan. Karena sebetulnya Manusia hanya memiliki Satu tujuan, satu tekad, dan satu semboyan yakni:

QS. Thaha 20 ayat 84:
...dan aku bersegera kepada-Mu, ya Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).

Kuat dan lemahnya sebuah bangsa diukur dari kemampuan mencetak laki-laki pemberani. Saya yakin, bahwa seorang laki-laki mampu membangun sebuah bangsa jika sifat beraninya terbentuk secara benar (terbentuk sesuai ketentuan Quran dan Hadits). Namun di sisi lain, ia juga sangat mampu menghancurkan sebuah bangsanya sendiri jika keberaniannya cenderung mengarah pada sifat mufsiduuna fil ardh (perusak bumi) dalam kata dasar adalah fasad dalam terjemahan bahasa qurais, yang artinya adalah merusak.

Abdullah Ibnu Umar RA. pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Manusia bagaikan segerombolan unta yang hampir tidak kamu temukan seekor unta pun unta yang kuat. (HR. Muslim, Fadha il ash-Shahabah, no 2547, hlm.232, at-Tirmizi).

Dalam hal ini Ibnu Hajar menjelaskan, "Dalam seratus ekor unta, kamu tidak akan menemukan seekor pun unta yang kuat. Sebab, yang pantas dijadikan sebagai tunggangan adalah unta yang tegap jalannya dan mudah diatur. Seperti inilah analogi manusia. Dalam seratus orang, Anda tidak akan menemukan seorang pun yang pantas dijadikan teman, sahabat, yang akan menolong dan saling mengasihi temannya".

Syauqi bersyair: Orasi-orasi Agung telah memenuhi barat dan timur, Seorang Laki-laki telah mati, namun para laki--laki jumlahnya sedikit. 

Maka dari itu, sudah bukan waktunya lagi, Umat Islam untuk bersantai-santai, menikmati indahnya kekayaan alam negeri, dan menikmati nyamanya dan bahagianya ketika berada / bersama sanak keluarga, padalah kita tidak akan pernah tau, esok hari dunia / negeri yang kita tinggali ini akan seperti apa. Dan sudah saatnya para kaum Laki-laki di seluruh penjuru Negeri, membentuk kader-kader / bahkan dirinya sendiri untuk menjadi laki-laki yang pemberani yang religius.

sumber: Al Qur'an Suratul Thaha ayat 84, HR. Muslim, "Seberapa berani Anda membela Islam-Na'im Yusuf"
Sejarah Keberadaan Berhala disekitar Ka'bah pada Era Quraisy.

Di era kekuasaan Quraisy terhadap bangsa Arab, ketika Ka'bah menjadi tujuan ibadah tiap suku-suku Arab, ia mnenjadi sumberbrwzeki bagi penduduk Mekah. Saat itu, kaum Quraisy meletakan seluruh berhala yang menjadi sesembahan suku Arab di sekeliling Ka'bah. Sekitar ratusan atau sekitar 360 berhala [1] mulai dari yang paling besar hingga yang terkecil. Bentuk dan rupanya pun berbagai macam, seperti manusia, binatang, tumbuhan dan lain-lain. Mengapa mereka kaum Quraisy berbuat demikian, itu tentunya karena mereka sadar bahwa jika bukan karena pesona Ka'bah, mereka tidak akan bisa hidup di lembah yang tandus itu. Lalu, mereka pun membuat aturan tentang larangan peperangan. Di sisi lain, mereka juga menjamin keamanan para tamu, baik yang datang untuk beribadah atau sekadar berdagang. Bukti bahwa begitu luar biasanya Kaum Quraisy itu.

Berkat adanya berhala itulah, pengurus Ka'bah berhasil meraup keuntungan yang besar. Mereka menjual lembaran-lembaran syair paganisme yang ketika itu tersebar di daerah Mesir, Yunani, India, dan Babak. Setiap orang yang datang ingin bersumpah di depan berhala-berhala tersebut, serta minta petunjuk dan harus membayar tarif tertentu pada mereka. Selain itu, para pengunjung juga membeli berbagai keperluan untuk mereka (berhala). Inilah salah satu yang menjadikan kota Mekah sebagai pusat transaksi perdangan.

Beberapa suku yang datang ke Ka'bah mengagungkan dan hanya menyembah berhala-berhala tertentu, seperti Wad, Suwa', Yaghuts, Ya'uqb & Nasr. Yang kelima behala inilah yang dulu pernah sebagai sesembahan kaum Nabi Nuh as. Sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Qur'an, QS Nuh (71): ayat 21-24.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar. Dan mereka berkata, " Jangan sekali-kali meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uqb dan Nasr. Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang; dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan".
'QS Nuh ayat 21-24'

Namun, ada juga beberapa berhala yang sangat terkenal dan diagungkan hampir semua suku yakni, Latta, Uzza, dan Manat. Al Qur'an mengisahkan tentang berhala-berhala tersebut, daam QS an-Najm ayat 19-22:

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?, Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil."

Latta adalah berhala berbentuk batu segi empat (rectangular stone) yang ada di Thaif, di atasnya ada sebuah bangunan dan tanah sekelilingnya juga dianggap sebagai Tanah Haram. Banyak suku dari Bangsa Aran berziarah dan mempersembahkan hewan kurban di sana. Berhala ini di bawah tanggung jawab Bani Mughits dari Suku Tsaqif, orang-orang Tsaqif berusaha menjadikan Latta sebagai tandingan Ka'bah yang saat itu dibawah kuasa suku Quraisy di Mekah.

Sedangkan Uzza adala pohon besar (the great tree) di lembah Nakhlah di timur Mekah. Uzza termasuk berhala terbesar kaum Quraisy. Mereka berziarah dan mempersembahkan hewan qurban padanya. Mereka juga menetapkan Tanah Haram di sekitar berhala itu, seperti Ka'bah. Hingga karena besarnya berhala tersebut, penghormatan mereka terhadap Uzza, banyak di antara mereka menamai nama anak-anak mereka dengan Abdul Uzza (hamabnya Uzza). [2]

Adapun Manat (Manah) adalah black stone (batu hitam) yang berada di tempat peribadatan di Qadid, yang terletak antara Mekah dan Yastrib. Berhala ini dianggap sebagai tuhan qadha (penentu / the determinant), yang bertugas menetukan kematian seseorang. Berhala lain milik Quraisy adalah Qubal yang berbentuk manusia yang terbuat dari batu.

Lalu, mereka kemudian membuat patung-patung initasi (KW) untuk mereka sesembahi sendiri, dan banyak dari mereka yang menyadari bahwa Berhala-berhala tersebut tak dapat membawa kebaikan dan keburukan untuk mereka.

Tidak semua Bangsa Arab menyembah berhala, sebagian bangsa Arab ada yang sadar bahwa semua berhala tidaklah mendatangkan kemudharatan atau manfaat. Tetapi mereka tidak mampu untuk melawa arus, apalagi berhala-berhala tersebut sudah ada disekitar Ka'bah selama beberapa abad.

Pada awalnya suku-suk arab itu melakukan ritual bukan menyembah berhala, tetapi menganggap mereka sebagai peratara antara mereka dengan Allah. Karena mereka berkeyakinan bahwa doa yang ditujukan langsung kepada Allah tak akan dikabulkan, kecuali melalui perantara berupa berhala dengan dicampuri berbagai ritual khusus (mirip dengan saat ini). Sejarawan Arab modern, Muhammad Daruzah, berpendapat bahwa sebagian bangsa Arab sebelum Islam mengakui adanya Tuhan, sebagai pencipta, pengatur dan menguasai Alam semesta, menghidupkan dan mematikan  serta memberi rezeki kepada Manusia dan mengutus para Nabi. Sebagian bangsa Arab yang lain berkeyakinan bahwa yang mereka lakukan, baik tradisi atau ritua-ritual lainnya adalah perintah Allah. Menurut mereka Allah meridhoi tindakan mereka dengan menjadikan berhala sebagai perantar ibadah Habluminallah. Kesimpulannya mereka mengakui adanya Allah, meskipun pada saat yang sama mereka menyembah selain Allah.

by Tegar Pungkas

Catatan kaki:
1. George Zidan, Tarikh at-Tamaddub al-Islami (kairo: Dar al-Khutub al-Mishriyah. 1958,) jil. I;
2. Ibnu al-Kalbi, kitab al-Ashnam  hal 13-15.

Sumber: Sejarah Ka'bah oleh Prof. DR. Ali Husni al-Kharbuthi..

Minggu, 12 Maret 2017

Firaun Mesir dan Nabi Musa Bag. 1

Kisah Nabi Musa dengan Fir'aun Akhenaten (yang diperkirakan satu individu, tapi ternyata bukan)
Bani Israel,
Fir'aun Merenptah, Fir'aun Ramesses III, Fir'aun Amenhotep II, Raja Yuya (Nabi Yusufkah..?!),
Haman &, Qarun..

Firaun Merenptah (Firaun yang memerangi nabi Musa).

dalam kajian Al Qur'an, Bibble & Talmud (perjanjian lama)..

Kesimpulan akhir, pada zaman itu, termasuk para penguasa dan para Fir'aun, menjalani kehidupannya dengan cara yang rasakan baik. Sama seperti manusia yan lain, di tempat dan waktu yang berlainan, mereka juga makan, minun, tidur, bercocok tanam, hidup, mati, suka, sedih, sakit, terhibur, mengingnkan kebahagiaan dan lain-lain.

Sama seperti manusia yang lain juga, ada di antara mereka yang baik, jahat, TOLERAN, berani, Takut, tamak, keras kepala, saling membunuh, berperanh, saling memaafkan dan sebagainya.

Jika diperhatikan, sikap mereka pada zaman yang lain, tidak begitu banyak perbedaan, bahkan sama saja dengan masa / era / zaman saat ini (khususnya bangsa ini). Maka, ketika membuat pernyataan bahwa Firaun itu jahat, hanya menunjukan seseorang kurang mengamati perjalaan sejarah secara menyeluruh. Karena, hanya memperhatikan beberapa inividu yang mempunyai masalah dengan Nabi-nabi, dalam hal ini Nabi Musa.

Dari sudut kepercayaan Agama pun, secara umum mereka mengakui segala nikmat yang mereka dapatkan datangnya dari suatu kuasa Agung. Sejauh mana mereka menggunakan nikmat-nikmat itu, baik untuk kebaikan ataupun sebaliknya.

Karena suatu saat nanti, kita akan dipertanyakan perihal perbuatan kita sewaktu kita diberi nikmat di dunia ini. Serta kita pun harus memastikan dan bejanji terutama untuk para penguasa, yakni ketika hidup di dunia, pastikan bahwa kalian, tidak membunuh, tidak membuat dan membiarkan rakyat kelaparan, tidak merampas susu dari mulut bayi yang tak berdosa, tidak menghalau binatang dari padang rumput, tidak melakukan penipuan, tidak merampok, tidak mencuri dan tidak berbohong terutama ngemeg doang.

Selain itu, akan ditimbang dengan kebenaran. Jelas, tentang yang dilakukn oleh Firaun Merenptah (yang memerintahkan pembunuhan, terhadap bayi laki-laki, berdusta, menindas dan lain-lain). Bukan saja salah di sisi pandangan Agama Samawi, yang dianut oleh sebagian besar penduduk bumi ini saat ini. Bahkan, juga sala di sisi kepercayaan masyarakat.

Namu, hal itu tak berlaku bagi para keturunan Yakjuj & Makjuj, Komunisme, Liberalisme, Demokrasi, Sosialisme, cabang ideologi yang pada dasarnya memiliki ciri khas yakni ciri tak bertuhan, meskipun Komunisme ala Lenin & Stalin (antar mereka yang berbeda haluan dengan Marxisme) dalam penerapan ideologi yang mereka anggap baik, tidak mengenal Halal-Haram yang justru inilah yang paling berbahaya secara langsung. Untuk tidak langsung, silahkan cermati sendiri.

Karena kaum munafik, sama sekali tak bertuhan, tak kenal halal-haram dan menantang sang Jabaniyah AS di dasar Jahanam.

 Tegar Pungkas
#yakjujmakjujliveinactionn

Sumber : Firaun Undercover (Karya DR. Afareez Abd Razak Al-Hafiz), Al Qur'an, Bible dan Kisah perjalanan Nabi Musa..

Ka'bah dan Mekah pada masa Abdul Muthalib

Ka'bah dan Mekah pada masa Abdul Muthalib.

----Terinpirasi dari petuah salah satu Dosen di daerah Banten. Bahwa Suku Quraisy saat sebelum Nabi Muhammad dilahirkan adalah bangsa tersebut telah memajukan Mekah, bukan karena Ka'bah dan letak geografisnya, melainkan kepiawaian para pemimpin Quraisy dalam mengelola kota Mekah.----
____________________________________________

Abdul Muthalib mewarisi kepimpinan dari nenek moyangnya. Namun, ia lebih baik dari mereka. Dia mampu mengemban tanggung jawab dengan baik, oleh karena itu, Mekah di tangannya mencapai puncak kemajuan di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, dan sosial. Banyak para ahli sejarah yang memuji kemuliaan dan kepribadian Abdul Muthalib. Catatan sejarah, bahwa para pemimpin yang hidup semasanya pun mengakui kepemimpinan dan keunggulannya.

Dalam bidang politik dalam negeri, beliau berhasil menjaga perdamaian antar suku di Mekah. Di masanya, suku-suki hidup berdampingan dengan damai dan nyaman. Mereka tunduk kepada kepemimpinan Quraisy dan merasa takjub akan politik bijaksana yang diterapkan Abdul Muthalib. Itu menjadi faktor utama bagi kesejahteran kaum Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan. Karena dari sumber sejarahwan menyatakan, bahwa sebelumnya antar suku yang satu dengan yang lain suka berperang demi memperebutkan sumber penghidupan mereka. Sehingga kesejahteraan jauh sekali dari harapan.

Dalam kancah politik luar negeri, Abdul Muthalib mampu menjalin hubungan yang baik dengan dua negara tetangga besar yaitu Persia & Romawi serta kerajaan yang berpengaruh yakni Hira & Ghassan. Ia juga berhasil menjalin hubungan baik dengan Yaman & Habasyah, hubungan Abdul Muthalib terjalin sangat erat.

Sampai ketika Abdul Muthalib, meminta Raja Najasyi dari Yaman, menjadi penengah antara dia dan pamannya, Naufal, saat berselisih. Hubungan kedua tokoh ini terus berlngsung hangat dan terputus saat Abrahah membangun Gereja besar di Shana'a untuk mengalihkan jamaah haji yang datang ke Melah.

Dalam bidang ekonomi, Abdul Muthalib berhasil mengangkat Mekah menjadi kota besar dan pusat kehidupan ekonomi bangsa Arab. Pada masanya, Mekah menjadi tempat paling nyaman untuk pertemuan kafilah-kafilah dagang dari berbagai bangsa dan agama. Itula sebabnya Mekah menjadi kota yang penuh dengan tradisi, budaya dan kaya peradaban.

Kedudukan dan kemuliaan Abdul Muthalib ini memuncak di tengah-tengah suku Arab ketika ia berhasil menemukan kembali dan menggali sumur Zamzam. Sepanjang sejarah, penduduk Mekah terus kekurangan sumber air. Demi air, mereka harus menempuh perjalanan jauh ke luar kota Mekah dengan kantong-kantong besar yang diangkut menggunakan Unta. Mereka yang tinggal di Mekah, harus mengeluarkan biaya yang mahal hanya untuk mendapatkan air. Namun, ketika Abdul Muthalib menemukan sumur Zamzam yang hilang dan air memancar dengan deras, segenap penduduk Mekah bersuka ria dan menganggap penemuan itu sebagai peristiwa agung. Maka, Abdul Muthalib menjadi tokoh yang dielu-elukan karena berhasil mengurangi beban hidup penduduk Mekah kala itu.

Ketika Mekah menghadapi serangan dar Habasyah, Abdul Muthalib berhasil menyelamatkan penduduk Mekah ke gunung-gunung dan lembah-lembah. Ia mampu menginspirasi kaumnya untuk berdiri dalam satu barisan dan melupakan semua konflik demi mengahadapi musuh yang asing yang datang menyerang. Ketika pasukan Abrahah menyerang, semua suku Arab pun bersatu, mereka berdiri gagah di belakang Abdul Muthalib untuk menghadang pasukan Gajah hingga akhirnya diberi kemenangan oleh Allah SWT melalui bantuan yang tidak diduga. Maka, Mekah & Ka'bah pun selamat dari serangan yang mengerikan dan tentara yang terkenal ganas tersebut.

Sistem keuangan kota Mekah juga sangat rapi di tangan Abdul Muthalib (saat ia memimpin). Pada masa kepemimpinannya, Mekah memiliki anggaran belanja yang tertib. Abdul Muthalib mengumpulkan dari sebagian harta penduduk Mekah untuk belanja makan dan minum seluruh jemaah Haji serta membeli penutup Ka'bah (kiswah) yang terbuat dari bahan yang baik.

Pada era kepemimpinannya, keadilan ditegakkan. Inilah yang membuat penduduk Mekah menarih hormat dan tunduk patuh pada Abdul Muthalib. Ia adalah sosok pemimpin yang cerdas, adil dan bijaksana. Ia serahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk melayani penduduk Mekah (bukan seperti saat ini, penguasa idiot hanya melayani Parte-parte idiot mereka saja) dan memudahkan semua jemaah haji yang berkunjung ke Mekah dan Ka'bah tanpa atura-aturan yang menyukitkan mereka (tanpa Visa, Pasport, tetek bengek yang katanya punya Umat Islam, tapi ketika ke sana sama saja diperlakukan seperti bukan oranh yang seagama, fakta bahwa Saudi adalah Negara Sekuler).

Ia juga mampu mengorganisi secara rapi kafilah-kafilah dagang yang hendak pergi ke Negara tetangga. Dalam pengaturan ini yang paling diperhatikan adalah penyesuaian waktu berangkat kafilah dagang asing dan waktu tiba mereka (saat ini sudah yang makin kacau, hantam harga, hantam lain-lain yang berujung pada Dukun). Dan ini pastinya membutuhkan pengelolaan / manajemen yang baik serta strategi yang baik. Jika tidak, kafilah-kafilah dagang Arab akan pergi sia-sia. Apalagi kafilah dagang Mekah sangat besar jumlahnya, dalam Al Husaini, al-Iddarah al-Arabiyyah (kairo, Alf Kitab, t.th.) Hal 29, jumlah untanya saja mencapai 2000, kuda sebanyak 500 dan anggota rombongan ada 300.

Maka, dapat disimpulkan bahwa kondisi ini bertolak belakang dengan para pandangan sejarahwan yang pandai, yang menganggap masa Jahiliyah era itu adalah sebagai masa yang kacau balau dan penuh kegelapan (sejatinya Jahiliyah adalah zaman kebodohan, ketika manusia diliputi kebodohan yang luar biasa, seperti saat ini, sudah jelas Islam adalah yang terbaik, kenapa mesti pilih yang lain..?!) yang menganggap ketika itu bangsa Arab tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Padahal, Mekah adalah kota yang mewarisi berbagai budaya dan peradaban dari negara-negara besar saat itu seperti Babilonia, Asyuria, Iramia, Kan'ani dan Saibah. Tidak hanya Mekah mereka juga mewariskan berbagai warna budaya pada dunia.

Seorang sejarawan orientalis, Wellhausen, mengatakan bahwa sebenarnya Mekah menjadi Kota yang maju bukan karena keberadaan Ka'bah atau letak geografisnya. Tapi, lebih karena kepiawan para pemimpin Quraisy dalam mengelola kota Mekah. Karena kepiawan merek ini, Quraisy menjadi Suku yang jauh lebih maju dari suku-suku Arab lain di jazirah Arab. Bahkan, lebih maju dari penduduk Yastrib (Madinah). Hal itu karena, penduduk Mekah hidup di era perdagangan, sementara penduduk Mandiah (Yastrib) masih berkutat di pertanian. Ketika itu, Mekah sudah mengenal berbagai macam layanan administrasi, pemeliharaan fasiitas umum dan manajemn kepemilikan properti.

Pada masa Abdul Muthalib, bulan haji adalah bulan haram, dimana pembunuhan, peperangan dilarang. Bangsa Arab lantas menggunakan kesempatan ini untuk mengundang orang dari seluruh penjuru Arab agar mau datang ke Mekah, untuk menyaksikan pasar tahunan. Saat itu, selain untuk tujuan ekonomi, diadakannya lomba-lomba sastra. Pasar Ukkazh adalah salah satu tempat yang dijadikan pentas sastra dan syair. Setiap suku berlomba menampilkan pentolan-pentolan yang ahli dalam bidang sastra dan syair agar dapat memenangkan perlombaan tersebut.

Sebagai pusat kegiatan haji, Mekah menjadi kota tuan rumah. Maka, para tokoh quraisy membuat aturan-aturan yang ketat pada penduduknya pwrihal pelayanan jemaah haji. Terutama masalah penyediaan konsumsi, selain itu mereka juga menginstruksikan agar semua penduduk menjaga kebersihan jalan di seluruh kota & bergotong royong membersihkan Mekah, dari sampah-sampah baik karena banjir  dan lain-lain. Adapun para budak bertugas mengambil air dari sumur-sumur di luar Mekah dan membawanya ke Ka'bah untuk membuhi kebutuhan haji.

Setiap blok pemukiman di Mekah memiliki tempat pembuangan sampah khusus (Pengaruh Ka'bah bagi perkembangan kota Mekah karya: Prof. DR. Ali Husni al-Kharbuthli). Orang-orang kaya mengimpor minyak zaitun dari luar Mekah untuk bahan bakar obor, yang disediakan secara gratis di bukit-bukit sekitar Mekah. Obor tersebut disediakan bagi kafilah-kafilah yang menempuh perjalanan malam agar tidak tersesat ketika menuju Mekah. Sebagaimana yang dituliskan Sejarawan pada masa Jahiliyah penerangan di malam hari sangat sulit dan jarang. Orang Arab biasa makan sebelum gelap tiba. Disebutkan dalam sebuah pepatah Arab "Sebaik-baik makan malam adalah jika makanannya masih bisa dilihat."

Banyak suku yang akhirnya menetap di Mekah karena lelah setelah hidup dengan cara Nomaden, mereka menetap di tempat yang suci yang berada di tanah tandus dan lahan hijau, serta diantara bukit dan lembah. Suku-suku ini tinggal di Mekah selama musim semi dan gugur, sedangkan saat musim dingin mereka menghabiskan waktu di Jeddah, dan di tepi pantai laut merah. Sementara saat musim panas mereka menghabiskan waktu di Thaif yang terletak tidak jauh dari Mekah (Al-Husaini, al-Idarah al-Arabiyyah, hal 29).

Suku-suku itu memilih tempat tinggal di Mekah karena Mekah dalah kota Suci, tempat berdirinya Ka'bah yang agung. Selain itu, pasar-pasar di Mekah menyediakan berbagai jenis komoditas dari segala penjuru dunia seperti India, Persia, Cina, Syam m, Mesir, dan Yaman. Terus, makin kama mereka mulai membangun rumah permanen di sekitar Mekah dan hidup berdagang (Luthfi Jum'ah, Tsaurah al-Islam wa Bathal al-Anbiya', hal. 41).

Tegar Pungkas
🦉
-—-———----———---———----



Rabu, 18 Januari 2017

Hubungan Yahudi Khazar dengan Yakjuj & Makjuj

Hubungan Yahudi Khazar dengan Yakjuj & Makjuj


  1. Asal Usul Yahudi Khazar

Yahudi khazar disebut sebagai bangsa, kabilah, negara atau kerajaan (imperium). Terutama tampak antara abad ke-7 dan ke-10. Hal tesebut merujuk kepada sebuah negara paganisme yang salah satu rajanya bernama Bulan yang kemudian memeluk agama islam, tetapi dalam beberapa riwayat disampaikan bahwa ia murtad dan memeluk agama Yahudi. Sudah menjadi suatu hal yang wajib pada abad ke-7 atau pertengahan sebelum era modern, bahwa secara otomatis rakyat dalam suatu negara tersebut akan mengikuti keyakinan atau agama sang Raja, walaupun hampir semua tidak mengikuti agama sang raja. Dalam hal ini kerajaan Khazar secara otomatis, ketika rajanya murtad atau berpindah agama dari agama Islam ke agama Yahudi maka, secara otomatis rakyat, kabilah dan negaranya pun berpindah agama atau memeluk agama Yahudi.

Akhirnya beberapa sumber menyatakan bahwa kabilah ini adalah kabilah ke-13. Mereka tidak termasuk ras Semit yang silsilahnya sampai pada Bani Israel dari keturunan Nabi Ibrabhim AS. Setelah dua kerajaan Bani Israel di tanah Palestina dihancurkan oleh Bangsa Asyur dan Babilonia dan mereka (rakyat Bani Israel) melarikan diri menyebar ke seluruh dunia. Setelah itu, mereka menyatakan kehilangan 10 kabilah lainnya. Kaum Yahudi Bani Israel tidak pernah mendapatkan kesempatan kembali ke tanah Palestina. Khususnya setelah penaklukan Islam atas tanah Palestina., kecuali pada abad ke-20 melalui perantara organisasi Zionis yang mencakup kaum Yahudi Semit dan non-Semit (Yahudi Khazar) atau mayoritas Yahudi yang tersisa saat ini.

Yahudi Khazar merujuk pada jumlah besar kaum Yahudi sekarang. Mereka adalah para pemerintah Zionis yang dapat kita sebut sebagau Israel. Mereka yang merencanakan setiap peperangan internasional dan nasional yang bahkan dapat disaksikan oleh kita bahkan oleh seluruh dunima, tentunya karena mayoritas media sosial itu adalah milik mereka kaum Yahudi / Israel. Tak mudah memang, menentukan munculnya Kerajaan Khazar sebagai sebuah bangsa dan negara dala panggung kehidupan di masa lalu. Banyak pendapat terkait pertumbuhan mereka di Asia Timur, ketika kabilah-kabilah Turki yang terdidr atas kabilah Tatar (Mongol) serta kabilah-kabilah lainnya yang berada di sekitar perbatasan Tiongkok kuno.

Menurut sebuah pendapat, “khazar” berasal dari kata berbahasa Turki, Quz, yang berarti berkelana atau memulai. Nampaknya, nama tersebut menunjukan perbuatan mereka yang sering berpergian dan berpindah tempat. Ada derivasi lain untuk kata koza dalam bahasa Rusia yang berarti buntut babi. Sejawaran Theovac (w. 818) menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang Turki yang datang dari timur dan disebut Khazar. Sebagian sejarawan menyatakan Khazar sampai ke Eropa Timur pada masa pemerintahan Byzantium Maurice Imperial setelah terrjadi konflik antara mereka dengan bangsa Turki Barat (dalam D.M Dunlop (Douglas Morton Dunlop). Sejarawan Yahudi Khazar, yang diterjemahkan oleh Suhail Zakar).

Pakar geografi Arab menyebutkan bahwa Khazar terdiri atas dua kelompok. Pertama, Kara-Khazar (Bangsa Khazar berkulit hitam). Kedua, Khazar kulit putih. Selanjutnya, Khazar muncul di Eropa Timur pada abad ke-16. Mereka datang dari tanah kelahiran mereka. Hal itu terjadi pada bangsa Turki Utsmani dan bangsa Turki Saljuk. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Khazar kulit hitam seperti orang India, buka Afrika. Ibn Sa’id Al Maghribi menyatakan “Sedangkan Khazar, mereka adalah orang-orang yang tinggal di bagian kiri wilayah yang dihuni, ke arah daerah ketujuh. Mereka membuat menara beruang di atas kepala mereka. Tanah mereka dingin dan basah. Oleh karena itu, kulit mereka putih, bermata biru, berambut merah terurai, bertubuh besar, berwatak dingin dan berpandangan buas.

Khazar menjadi kelompok bersamaan dengan umat-umat Timur Besar lainnya, mereka sama seperti bangsa Tiongkok dan Turki yang datang berkelompok ke pintu-pintu masuk Kekaisaran Persia. Dalam bukunya, Al-Thabari Tarikh Al-Thabari, mengatakan, “Di antara putra Mu’ij, Yakjuj dan Makjuj. Mereka berada di timur tanah Turki dan Khazar”. Pendapat lain menyatakan bahwa turki berasal dari keturunan Nabi Ibrahim AS. dari istrinya, Qathura/Qanthura, yang ayahnya termasuk orang Arab ‘Aribah. Ibn Ishaq dan Jahizh termasuk orang yang berpendapat demikian.


  1. Yahudi Khazar dengan Yakjuj dan Makjuj

Yahudi Khazar berasal dari keturunan Yafet ibn Nuh AS. sedangkan Yahudi Israel berasal dari keturunan putra-putri Ya’qub AS. yang nasab keturunannya sampai kepada Sam bin Nuh AS. Demikia pula dengan bangsa Turki tatkala bangsa Khazar dinisbahkan kepada mereka pun dari Yafet. Dari Turki muncullah Yakjuj dan Makjuj. Mereka terdiri atas beragam kabilah. Mereka keluar dari lubang besar yang menjadi jalan menuju dunia bawah tanah untuk menyerang rekan-rekan mereka, orang-orang yang mengadu kepada raja sekaligus salah seorang Nabiullah, Nabi Dzulkarnayn.

Kemudai beliau (Dzulkarnayn) mengurung mereka hingga mendekati akhir zaman. Allah menyebutkannya dalam Al Quran Quran Surat Al Kahfi ayat 93 – 99
Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan
Mereka berkata: "Hai DDzulqarnayn, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?"
Dzulqarnayn berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,
berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah DDzulqarnayn: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu."
Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.
Dzulqarnayn berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar."
Kami biarkan mereka di hari itu (Pada Perang Dajjal) bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya, (QS. Al-Kahfi: 93-99)

Ada beberapa hadits shahih yang menjelaskan tentang Yakjuj & Makjuj bahwa mereka berwajah lebar seperti perisai yang terpukul (buruk suatu benda yang sering dipukul hingga terdapat sekali bekasnya), bermata sipit, berambut pirang dan mereka dapat turun dengan cepat dari tempat yang tinggi. Ada beberapa pendapat bahwa Yahudi adalah Yakjun & Makjuj. Pernyataan ini tidak bisa dibenarkan secara umum, sebab Yahudi berasal dari 12 kabilah Bani Israel. Sedangkan, kabilah ke-13 hanyalah Yahudi Khazar yang nasab keturunannya sampai pada Yakjuj & Makjuj.

Heolia Georgia menyebutkan bahwa ada satu kesastraan kuno yang mengungkapkan bangsa Khazar adalah Yakjun & Makjuj. Mereka adalah kaum laki-laki buas yang memiliki penampilan yang buruk dan haus darah. Seorang penulis Armenia juga menjelaskan bahwa Bangsa Khazar adalah orang-orang yang berwajah buruk, lebar dan tidak atau hampir tidak memiliki bulu mata, serta berambut panjang seperti wanita. Seorang ahli geografi Arab Persepolis menyebutkan bahwa bangsa Khazar tidak mirip dengan orang Turki karena rambut mereka hitam. Mereka terbagi dua. Pertama, Kara-Khazar, yaitu bangsa Khazar kulit hitam. Mereka mirip orang India. Kedua, Khazar kulit putih. Mereka berpenampilan tampan dan menarik perhatian.

Seperti banyak diketahui bahwa anggota kasta yang memiliki paras menarik dan berkulit putih adala kasta penguasa. Adapun anggota kasta yang lainnya berkulit hitam. Hal ini dijadika pembenaran atas keyakinan bahwa orang Bulgaria Putih lebih putih daripada orang Bulgaria kulit hitam. Atau orang Tatar putih terkenal dengan nama Ephtaltes yang memerangi India dan Persia pada abad ke-5 dan ke-6 adalah orang-prang yang lebih pirang daripada kabilah-kabilah Tartat yang lain yang pernah menyerang Eropa (Kabilah ke-13).

Dalam bukunya Koestler, Kabilah Ketiga Belas. Dia menambahkan, “kenyataanya, bangsa Khazar adalah bangsa yang berkulit hitam yang bergantung pada hipotesis ahli geografi Arab Perpolis. Keadaan mereka diterangkan dalam beberapa tulisan rekan-rekannya bukan atas dasar sandaran ilmiah yang otentik, tetapi mendasar pada cerita-cerita legenda dan dongeng. Dan saya pun tidak lebih banyak mengetahui dan meneliti tentang keadaan jasmani bangsa Khazar atau asal usul mereka”. Namun, beberapa pendapat menyatakan bahwa kenyataanya, kabilah-kabilah Turki dan kaum-kaum yang berasal dari mereka, Tartat, Mongol atau di barat mereka lebih dikenal dengan nama Huns, adalah kabilah yang jumlahnya sangat banyak. Yakjuj & Makjuj salah satu dar mereka. Mereka semua berasal dari keturunan Yafet bin Nuh AS. mereka terus menerus berketurunan dalam jumlah yang besar, hingga menjadi jumlah yang terbesar dari keturunan Nabi Adam AS. pada hari kiamat kelak.

Heolia Brisk menegaskan bahwa bangsa Khazar muncul di Eropa sekitar pada abad pertengahan ke-5 sebagai rakyat di bawah kepemimpinan pemerintah Tatar. Mereka, bangsa Hungaria, serta kabilah-kabilah lainnya dianggap berasal dari keturunan kabilah Atila yang merupakan pemimpin Tatar. Setelah Atila meninggal dunia, ImperiumTatar hancur dan gelombang kabilah-kabilah yang berpindah tempat pun mulai bermunculan., dari timur Asia ke timur Eropa. Kabilah yang paling terkenal diantara mereka adalah kabilah Ujour dan Afar. Kabilah Khazar termasuk dalam golongan mereka.

Sebelum berdirinya ImperiumKhazar, mereka ikut ImperiumTurki Barat (Kerajaan Turkut), Kaffan atau Sajat. Mereka menjadi kesatuan konfederal yang mengumpulkan banyak kabilah di bawah seorang pemimpin yang dijuluki Khakan; dalam bahasa Turki berarti Tatar dan dalam bahasa Mongol berarti raja. Pemerintahan pertama Turki ini hidup selama satu abad, dari tahun 550-650. Kemudian, terpecah belah tanpa tersisa sedikitpun.

Setelah bangsa Khazar terkalahkan dan Imperiummereka berakhir pada 965 hingga abad ke-13, mereka terus menjaga kemerdekaan dalam batas-batas wilayah yang lebih sempit dari sebelumnya. Selain itu, mereka juga menjaga agama mereka, Yahudi. Bahkan, mereka kembali membiasakan perampasan dan perampokan tehadap orang lain, sebagaimana yang mereka lakukan ketika masih memiliki imperium. Dengan kata lain, mereka kembali melakukan kerusakan di muka bumi. Hal itu  merupakan sifat-sifat paling penting umat Yahudi.

Lebih jauh kita kuak, salah seorang sejarawan Baron, menyatakan, “Secara umum, kerajaan kecil Khazar terus ada dan hampir berhasil menghalau seluruh musuh mereka hingga ke pertengahan abad ke-13 ketika mereka menjadi mangsa bangsa Mongol yang dipimpin oleh Genghis Khan, Khakan Agung Mongol, sebagai raja dunia saat itu. Perlu diingat bahwa saat itu mereka melakukan pertempuran yang sengit hingga akhirnya meminta seluruh wilayah tetangga untuk menyerahkan diri dan ikut bergabung. Mereka sebelumnya telah membuat pusat Imperiumdi negeri Khazar, tetapi mereka telah mengirim sebelum dna setelah penyerangan Mongol sebagian besar keturunan mereka menyebar ke negeri-negeri Slavic yang belum ditaklukan oleh Mongol. Dengan demikian, pada akhirnya keturunan mereka ini membantu mendirikan markas-markas Yahudi besar di Eropa timur.

Ada kemiripan antara Yakjuj & Makjuj dengan Yahudi ini memiliki kesamaan sifat merusak di bumi ini dan menyerang tetangga. Perusakan yang dilakukan oleh Yakjuj & Makjuj, kaum Yahudi Bani Israel, dan Yahudi bangsa Khazar keturunan Turki telah dijelaskan dalam Al Quran dan sejarah manusia.

Jauh sebelum Imperium Khazar Yahudi Khazar hancur, beberapa kabilah telah berkumpul. Mereka dikenal dengan kabilah Al-Kabar hingga kabilah Magyar, dan mereka pindah ke Hungaria Taksony mengajak sejumlah pendatang Khazar lain untuk menetap di wilayah kekuasaanya. Tentara Yahudi Khazar muncul dalam peperangan Hungaria pada 1154. Sementara ini mewujudnya tersebarnya bangsa Tatar yang memeluk agama Yahudi di Eropa Timur, bahkan setelah Imperiummereka hancur pada abad ke-10.

Sebelum mengakhiri bagian tentang hubungan Yahudi Khazar dengan Yakjuj & Makjuj, Saya akan menyampaikan kembali tulisan para pengembara Arab yang hidup pada masa Khalifah Abbasiyah, salah satunya adalah Ibn Fadhlan, yang telah mendatangi negeri Khazar pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muqtadur Billah Al-Abbasi. Dia menjelaskan bahwa bangsa dan kerajaan Khazar semuanya Yahudi. Bangsa Bulgaria serta negara tetangga tunduk dan taat kepada mereka. Dan sebagian ada yang menyatakan bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah bangsa Khazar.


Barangkali kita tidak boleh lupa, bahwa Al-Masih Ad-Dajjal ketika keluar akan diikuti oleh Yahudi. Khususnya Yahudi Khazar di seluruh dunia, dari timur hingga barat. Kita juga tentu tidak boleh lupa bahwa Khazar termasuk kabilah Yakjuj dan Makjuj yang telah dipenjarakan oleh Dzulkarnayn. Bab ini Saya ambil dari buku terbitan Dar Al-Kitab Al-Arabi, Damaskus, Mesir yang ditulis oleh Manshur Abdul Hakim, dalam salah satu bukunya yang menjelaskan antara Yahudi Khazar dengan Yakjuj dan Makjuj dalam bukunya yang berjudul Ya’juj & Ma’juj dari awal hingga akhir.